Saturday, December 26, 2020

Mengenal Dinasti Uno

Marga Uno di Gorontalo berawal dari nama Mufti Uno yang hidup sekitar awal tahun 1800an . Gelar Mufti atau “MOPUTI “, dalam struktur adat Gorontalo tugasnya sebagai penasihat agama di Kerajaan. Moputi Uno kawin dengan putri Welemoyio, saudara kandung Mufti Kaluku. Anak keturunannya yaitu; Aliwu dan Aneto

Aneto Uno kawin dengan Rabiah Kaluku mendapat anak yaitu Alexander /Sander, Kamsia, Amir, Yunus dan Sore. Aneto Uno pernah menjabat Marsaoleh di Paguat (1868) dan Kwandang (1892). Pada tahun 1896 mendapat medali penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda.

Sander (Alexander) Uno anak dari Aneto Uno pernah menjadi guru seangkatan dengan Umar Katili. Tahun 1901 menjadi birokrat dengan jabatan pertama sebagai walaopulu Kwandang , kemudian menjabat Walaopulu Sumalata tahun 1906 , Marsaoleh Boalemo (1907) dan Marsaoleh Kwandang (1909). Adik kandung Sander yaitu Kamsia Uno pernah menjabat Marsaoleh Paguat (1908 ) dan Marsaoleh Tapa tahun 1909. Sander Uno meninggal dunia tanggal 20 November 1918 akibat penyakit flu Spanyol. Saat itu tahun 1918, hampir seluruh dunia dilanda pandemi flu Spanyol. Data laporan Kesehatan Hindia Belanda bahwa 10 persen dari jumlah penduduk Gorontalo tewas akibat penyakit ini.

silsilah Keluarga Uno

Sander memiliki 4 orang anak yaitu; Mohasif, Abdul, Salma dan Arif. Anak ke 2 Sander Yaitu Abdul Uno pernah menjabat Kepala Kehutanan di Gorontalo sekitar tahun 1930an. Abdulah Uno salah satu pendiri majalah "Po-Noewa" yang terbit sebulan sekali antara tahun 1932-1933.Kawin dengan Intan Ruwaida Monoarfa anak dari Jogugu Rais Monoarfa. Anak perempuan dari Abdul, ILEANA kawin dengan Prof.Dr. J.A Katili. Putra dari Abdul Uno Razik Halik biasa dikenal dengan nama Genk Uno kawin dengan Rachmini Rachman (Mien), memiliki dua orang putra yaitu Indra dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Sandiaga Salahudin Uno biasa lebih akrab dipanggil Sandi Uno adalah seorang pengusaha dan sekaligus politisi. Memiliki usaha dibidang pertambangan, telekomunikasi dan pertanian. Pernah menjdi ketua HIPMI pusat , Wakil Gubernur DKI 2017-2018 dan sekarang menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif .

Saturday, December 5, 2020

Sengketa Kepemilikan Budak antara Buol dan Limboto

       Sekitar tahun 1670-an sebanyak 160 orang budak dari Kerajaan Limboto melarikan diri ke wilayah kerajaan Buol, kemudian utusan kerajaan Limboto yang diwakili oleh Kapitan Laut Walangadi pergi ke Buol menemui Raja Buol untuk membicarakan masalah Budak asal Limboto. Pembicaraan masalah Budak ini dihadiri pula utusan dari Kerajaan Kaidipan.

      Raja Buol menolak menyerahkan budak tersebut, sehingga peperangan tak bisa dihindari. Pada Desember 1683 Kerajaan Limboto bersekutu dengan Kerajaan Kaidipang  menyerang kerajaan Buol, yang akhirnya Buol mengalami kekalahan. Namun para budak yang disengketakan melarikan diri ke wilayah hutan di Toli-Toli. Kerajaan Limboto kembali merundingkan soal pengembalian budak, tetapi pihak Buol  tetap pada keputusan sebelumnya. Kerajaan Limboto menyerang kembali kerajaan Buol, untuk kedua kalinya pihak kerajaan Buol mengalami kekalahan perang. Kerajaan Limboto menawan dua orang pengeran Buol dan membawanya ke Karajaan Limboto. Selama dalam tawanan  Pangeran Puni dan Balamogilalu diperlakukan secara istimewa. Nantinya mereka yang ditawan ini akan menjadi perantara oleh Kerajaan Limboto  dalam merundingkan pengembalian Budak asal Limboto.  Cara yang dilakukan oleh Kerajaan Limboto berhasil membujuk  Raja Buol untuk mengembalikan Budak asal Limboto. Kedua kerajaan yang bersengketa ini akhirnya mengakiri permusuhan dan menjalin perdamaian.

Gambar lukisan perbudakan abad 17


Sumber:

Buku Sejarah Kerajaan Gorontalo

Oleh Harto Juwono

Saturday, November 21, 2020

Pejuang asal Gorontalo (2)

 Aloei saboe

Lahir di Gorontalo 11 November 1911 adalah seorang dokter, akademisi dan tokoh pejuang kemerdekaan. Aloei Saboe menyelesaikan pendidikan dokternya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) yang kini berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Setelah lulus dari pendidikan dokternya, ia ditempatkan di semarang hingga akhirnya di Gorontalo pada tahun 1942.

Aloei Saboe telah berkontribusi selama lebih dari 30 tahun dalam pemberantasan penyakit kusta dan ikut serta menyiapkan RS di desa Toto di Kabila, Gorontalo. Jabatan terakhir Aloei Saboe adalah menjadi wakil Kepala pengawas dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat.

dr. Aloei Saboe (x), foto tahun 1955
     

Dalam organiasasi ia pernah aktif sebagai anggota Jong islamieten bond pada tahun 1926, ikut serta dalam PNI pada tahun 1935. Pernah terpilih sebagai ketua umum PNI cabang Gorontalo pada kongres yang pertama. Ikut bersama Nani Wartabone pada peristiwa 23 Januari 1942 dan saat terjadi perang revolusi Kemerdekaan RI tahun 1946-1947, Aloei Saboe ikut serta dalam mengirimkan pasokan obat obatan dan alat kesehatan kepada para pejuang kemerdekaan di Banyuwangi, Jawa Timur. Atas jasa perjuangannya Pemerintah RI memberikan tanda jasa berupa Bintang Gerilya dan satyalencana peristiwa Aksi Militer I dan II. Wafat pada tangga 31 agustus 1987 dan dimakamkan di taman makam pahlawan Jakarta.


Monday, November 9, 2020

Pejuang asal Gorontalo

Mayor Abdullah Idrus alias Dullah

Lahir di Gorontalo, pernah menjadi pelaut dan saat Jepang menduduki Indonesia Dullah bekerja sebagai penarik becak di Surabaya. November 1945 bergabung di Tentara Laut Republik Indonesia, karena kecakapannya dalam berperang diberi pangkat Kapten walaupun beliau buta huruf.

Pada tahun 1947, Dullah kawin dengan Wims Umampan yang berprofesi sebagai guru. Istrinya mengajari Dullah hingga bisa membaca dan menulis, teman sejawat Dullah yaitu Kapten F.J Tumbelaka turut membantunya mengajari baca tulis dan bisa memahami bahasa Belanda dan Inggris secara pasif. Kapten F.J Tumbelaka dikemudian hari menjadi Gubernur Sulutteng tahun 1962-1964.

Tahun 1948 Dullah diberi kepercayaan sebagai komandan pasukan Batalyon, ikut penumpasan Peristiwa Madiun dan berjuang saat Agresi Belanda II. Pangkatnya dinaikan menjadi Mayor. Saat berada di Ambon tahun 1950 membasmi pemberontakan RMS, mayor Dulllah gugur bersama Letko Slamet Riyadi. 

Mayor Dullah dimakamkan di pulau Geser, Kepulauan Seram, Maluku. Atas jasa perjuangannya, Mayor Dullah dinaikan pangkatnya menjadi Letkol Anumerta.

Saturday, November 7, 2020

Pelaut Bugis dan VOC di Teluk Tomini

       Penangkapan dan Pengasingan Raja Bia Ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan bukan berarti Kerajaan di Gorontalo sepenuhnya bisa dikendalikan oleh VOC. Pejabat Bangsawan di Kerajaan Gorontalo dan Limboto tidak kooperatif dengan VOC dalam hal kegiatan perdagangan karena tidak menguntungkan secara Ekonomi. Pejabat bangsawan lebih suka bertransaksi dalam perdagangan dengan pelaut Bugis dan Mandar. Bagi pihak VOC Belanda, sebutan pelaut Bugis dan Mandar sebagai “Perampok dan Bajak laut “, akibat aktifitas orang Bugis dan Mandar di perairan Teluk Tomini pihak VOC merasa dirugikan. Tahun 1702 utusan VOC menghadap Raja Gorontalo Walangadi membicarakan keberadaan pelaut bugis dan mandar yang diketahui telah memiliki sarang pertahanan di wilayah pantai Teluk Tomini. Raja Gorontalo tidak bisa mengatasi keberadaan pelaut bugis ini. Utusan VOC kembali ke Ternate dan menghadap Gubernur Maluku, dari hasil laporan utusan VOC itu pihak VOC memutuskan segera menggempur sarang pertahanan “Perompak Bugis dan Mandar”. Sekitar Januari 1703 pasukan armada laut VOC dibantu warga Tambokan menggempur sarang-sarang pertahanan pelaut bugis dan mandar. Tambokan merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate yang terikat dengan perjanjian dengan VOC. Gempuran VOC ini berhasil mengusir mereka dari perairan Gorontalo. 

          Peta tahun 1700 Indonesia Timur


       Para bangsawan Gorontalo dan Limboto yang antipati pada VOC yang mana daerah mereka mengalami kerusakan atas penyerangan VOC, segera melampiaskan kepada orang orang Tambokan. Mereka menangkapi 16 orang Tambokan dan dijadikan budak. Raja Gorontalo dan Raja Limboto pada tanggal 30 November 1705 membuat pernyataan bersama; “mengancam akan membunuh siapapun yang tidak bayar upeti”. Gubernur Maluku menggangap ini sebagai masalah serius ,Sultan Ternate diajak oleh VOC untuk mengatasi situasi politik di Gorontalo. Namun usaha ini sia sia, dan salah satu cara untuk mengatasi hal ini VOC memutuskan memulangkan kembali bekas Raja Gorontalo Bia dari pengasingannya dari Afrika Selatan pada tahun 1706. Dengan harapan bahwa kepulangan eks Raja Gorontalo mampu meredam perlawanan elit bansawan terhadap VOC. Dan cara yang dipakai VOC ini berhasil, untuk sementara waktu situasi di perairan Teluk Tomini aman dan terkendali.


Catatan*

Sepanjang abad 17-19 pihak kompeni Belanda masih saja berusan dengan masalah keamanan di perairan Teluk Tomini. Pejabat bangsawan di Gorontalo tetap berhubungan dagang secara illegal dengan pelaut bugis, terutama ditemukannya emas di wilayah Gorontalo. Akibatnya pemasukan pajak untuk Pemerintah Kolonial Belanda tidak maksimal.


Sumber:

Buku Limo Lo Pahalaa, Sejarah Kerajaan Gorontalo

Friday, October 9, 2020

Istilah Hulontalo dan Goenong Tello


Suku Suwawa biasa datang ke pantai Gorontalo untuk berdagang. Di sini mereka menunggu barang barang yang mereka butuhkan untuk dibeli, lalu di awa pulang ke daerah mereka. Oleh sebab itu, mereka nai tempat itu pogulatalo yang berarti " tempat menunggu". Kemudian kata pogulatalo (gulatalo) berubah menjadi Hulontalo


Orang orang Bugis, yang mula mula datang ke Gorontalo memasuki teluk akan melihat tiga buah puncak gunung, lalu menamai negeri ini Gunung Tellu (goenong Tello) yang artinya "tiga buah gunung". Dalam bahasa Gorontalo hu'idu tihengo artinya gunung tungku, karena ketiga buah gunung itu letaknya berdekat-dekatan seperti tiga buah tungku. Gunung Tellu dalam ucapan orang Gorontalo menjadi Hulontalo

Foto pintu masuk teluk Gorontalo (1930)

Beberapa petunjuk dan nama untuk wilayah Gorontalo sekitar awal tahun 1800an memakai nama Gunung Tellu seperti nama sungai Bone sebelumnya bernama sungai Gunung Tello. Peta tahun 1842 nama teluk Tomini masih memakai nama Goenong Tello.



Dinasti Wartabone di masa lampau

Raja Wartabone alias La Bunue pernah berkuasa di Kerajaan Konfederasi Suwawa-Bone- Bintauna memerintah tahun 1830-1849.

La Iboerahima Wartabone alias Talibu atau Teibu adalah anak tertua dari Raja Wartabone. Pertengahan  tahun 1800-an La Iboerahima merantau ke pulau Una-Una. Di pulau tersebut adalah awal La Iboerahima menjadi seorang penyebar agama islam. Beliau kemudian pindah tempat di wilayah daerah  palu  melanjutkan dakwahnya. Wafat pada tahun 1897 di desa Potoya Kabupaten Sigi, SULTENG.

Selain itu ada putra dari Raja Wartabone yang pernah menjabat Walaapulu yaitu Nuku Wartabone. Nuku Wartabone memiliki anak bernama Zakaria Wartabone, pernah menjabat Walaapulu Tapa. Kemudian diangkat menjadi Marsaoleh Bone-Suwawa, terakhir menjabat sebagai Jogugu Suwawa.

Jogugu Zakaria Wartabone


Ayuba Wartabone dan Nani Wartabone anak dari Jogugu Zakaria Wartabone yang pernah menduduki jabatan di pemerintahan.

Ayuba Wartabone pada era pemerintahan Hindia Belanda pernah menjadi Marsaoleh dan Jogugu Limboto. Awal Kemerdekaan Indonesia, Ayuba Wartabone menduduki jabatan Kepala Daerah Sulawesi Utara tahun 1950an. Salah satu anak dari Ayuba Wartabone yaitu Suus Wartabone kawin dengan Boe Taki Niode yang nantinya menjadi walikota Gorontalo.

Nani Wartabone tokoh 23 Januari 1942. Tahun 1957 Beliau membentuk "Pasukan Rimba" melawan  pemberontakan PERMESTA. Nani Wartabone pernah menjabat Residen Koordinator Sulawesi Utara.

Monday, September 14, 2020

Catatan Sejarah Raja Wolango, Putri Moliye dan Raja Polamolo


Raja Gorontalo Wolango adalah anak dari Raja Uloli, berkuasa tahun 1450-1481. Wolango memiliki Istri bernama Moliye, seorang penguasa Kerajaan Limboto. Moliye  menggantikan ibunya, Ratu Mitu.

Dalam catatan sejarah, Wolango dan Moliye melakukan ekspansi memperluas kekuasaan di Teluk Tomini dan anak mereka bernama Polomalo diserahkan tugas sementara untuk mengurusi kedua kerajaan, Gorontalo dan Limboto.

Raja Wolango bersama prajurit kerajaan memulai perjalanannya dari Teluk Gorontalo menyusuri pantai Barat. Sedangkan Ratu Moliye bersama pasukannya memulai perjalanan dari Muara Sungai Paguyaman menuju Kepulauan Togian. Keduanya berhasil menaklukan wilayah yang berada di Teluk Tomini dan bertemu di Sausu. Selanjutnya Wolango dan Moliye membuat kesepakatan perjanjian yang dikenal dengan perjanjian "Sausu Masabuku" , Kerajaan Gorontalo mendapatkan wilayah Sausu sampai Paguyaman dan Kerajaan Gorontalo mendapatkan wilayah dari perbatasan Sausu sampai pulau Togean



Tahun 1481 Polamolo dinobatkan menjadi Raja   Gorontalo sekaligus Raja Limboto. Akhir dari kekuasaannya adalah peristiwa pembunuhan atas dirinya yang didalangi oleh pejabat kerajaan. Raja Polamolo digantikan oleh putri Ntihedu adik dari raja Wolango sebagai Ratu Gorontalo, sementara Kerajaan Limboto adalah  raja Pilohibuta. Mulai saat itu Kerajaan Gorontalo dan Limboto masing-masing memiliki rajanya.


Catatan

Raja Wolango kawin dengan Ratu Moliye dapat anak tunggal bernama Polamolo.

Raja Polamolo kawin lagi dengan putri Monggulilalo dapat anak:

1. Pangeran Lopuo

2. Raja Uloli II

3. Putri Mitu II

Friday, August 7, 2020

Asal Usul Suku Gorontalo



Pada abad 10 masehi, pemandangan di sepanjang pesisir pantai Teluk Tomini masih sangat sunyi. Kondisi wilayah disekitarnya pun merupakan kawasan yang amat banyak ditumbuhi semak dan belukar. Sumber sejarah menyebut seluruh area pantai belum pernah dihuni oleh penduduk secara tetap, melainkan ada beberapa kelompok nomaden. Mereka adalah pejalan kaki yang masuk sebagai pendatang dan senantiasa berpindah pindah tempat. Salah satu kebiasaan mereka adalah bermukim di pinggir kawasan hutan dan berlangsung hingga abad 12. Selain pesisir pantai daratan lainnya pun masih bersemak dan berhutan sangat lebat. Sehingga itu sulit bagi pendatang untuk melakukan aktivitas perburuan hewan rimba.


Dua abad kemudian yaitu pada tahun 1380 masehi, sebahagian kecil pesisir pantai digunakan sebagai tempat persinggahan. Selain itu sering pula dikunjungi oleh para petualangan di laut yang senantiasa berlalu lalang. Pada waktu yang sama pedagang rempah-rempah melakukan aktivitas pelayanan, mereka hendak melintas di perairan Sulawesi menuju kepulauan Maluku. Demikian juga halnya orang-orang Goa ada kalanya simpang siur berkeliaran di teluk Tomini.


Berdasarkan arsip kerajaan Belanda, pada sebuah dokumen formal yang ditulis oleh seorang penginjil bernama J.F Riedel, merilis laporannya tentang keadaan masa silam di wilayah itu. Tercatat bahwa hingga abad ke-10 wilayah tersebut sama sekali belum dihuni oleh manusia. Sementara dalam catatan Tome Pires ada beberapa bangsa yang sudah maju di bidang teknologi perkapalan dan pelayaran, sudah pernah mengunjungi beberapa tempat di pulau Sulawesi. Antara lain semenanjung utara pulau Sulawesi dan di pantai selatan Pulau Sulawesi. Mereka tak luput dalam mencatat seluruh aktivitas yang terdapat di wilayah wilayah pemukiman dan kerajaan yang dijumpainya.


Setelah kedatangan mereka, perlahan lahan dilakukan persuasi kepada masyarakat dan berusaha mendekati petinggi kerajaan dengan maksud untuk mempererat hubungan mereka. Umpamanya mengadakan perjanjian kerjasama dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di perairan teluk. Hubungan bilateral itu dibangun dengan tujuan agar dapat melakukan kegiatan perdagangan dengan lancar secara bersama.

Sehingga itu banyak ditemukan artefak bernilai sejarah dan ditandai dengan adanya sisa sisa peninggalan pemerintah kolonial. Misalnya meriam Portugis dan puing puing kapal laut bangsa Punisia yang hanyut dan karam di sekitar Selat Selayar karena derasnya arus perairan. Artefak artefak itu ditandai dengan simbol simbol kolonial dan kepemilikannya identik dari hasil produk kebudayaan bangsa imperialis, yang pernah datang pada masa lampau. Mereka adalah Bangsa Punisia, Bangsa Portugis dan Spanyol.


Ketiga bangsa itu sudah lama mengenal teknologi navigasi dan mempunyai kultur di bidang maritim. Mereka memiliki banyak armada serta pelaut pelaut yang ulung dan tangguh, terutamanya bangsa Punisia atau disebut Cartago. Sebelum kedatangannya, mereka pernah terdesak dalam situasi pertempuran dan terpaksa melarikan diri saat mengalami kekalahan dari kekaisaran Romawi pada perang punik III. Takluknya bangsa Punisia mengakibatkan kerusakan di ibu kotanya dsb. Selain menghancurkan infrastruktur tentara kekaisaran Romawi menangkap penduduknya kemudian dijual untuk tujuan perbudakan. Sebahagian kecil saja diantara mereka lolos melarikan diri, kemudian berpencar pencar mencari suatu negeri yang dapat memberikan suaka.


Adapun petualangan yang diperhadapkan pasca kehancuran bangsanya memakan waktu hingga beratus ratus tahun. Dan bermodalkan perahu perahu besar, sebagian dari mereka masih bertahan hidup di laut kemudian mencoba melakukan perniagaan hingga menjadi saudagar. Oleh sebab itu ada salah satu dari mereka yang terdampar di wilayah perairan nusantara yakni di pantai Bira tepatnya di Selat Selayar. Kemudian mereka memperkenalkan kepada nenek moyang kita (penduduk setempat) budaya dan kebudayaan laut. Demikian hal itu terjadi dan selalu dikenang oleh masyarakat tradisional di daerah daerah Sulawesi Selatan. Disisi kenyataannya, adalah karena orang Punisialah yang terlebih dahulu hadir dalam babad pelayaran bagi Suku Bugis-Makassar. Sehingga penduduk setempat tidak pernah melupakannya. Kedatangan pelaut Punisia banyak menciptakan perubahan terhadap pribumi, antara lain memperkenalkan budaya bahari serta mengajarkan ilmu perbintangan kepada nenek moyang kita. Kesinambungan aktivitas itu juga menjadi harapan agar mereka dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Kemudian pada abad berikutnya masuk pula bangsa Portugis dan Spanyol pada tahun 1512 dan diikuti oleh bangsa Belanda pada tanggal 22 Juni tahun 1596. Pada waktu itu delegasi pelayaran kerajaan Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman dan untuk pertama kalinya berlabuh di Pelabuhan Banten.


Tenggat waktu yang cukup lama setelah bangsa Punisia masuk melalui selat selayar, maka secara perlahan mereka saling beradaptasi dengan penduduk setempat. Tetapi untuk memperkenalkan kebudayaan maritim kepada penduduk agraris di Pulau Sulawesi, sedikitnya dapat dikatakan mengalami hambatan. Kendala yang utama adalah karena nenek moyang kita tidak terbiasa dengan kehidupan di laut. Dalam hal ini suku Bugis-Makassar, belum mau menerima secara keseluruhan transformasi ilmu pengetahuan tentang budaya dan kebudayaan bahari. Namun lambat laun saat mereka saling berinteraksi sosial, pada akhirnya nenek moyang kita berbaur juga lalu memperoleh berbagai pengalaman dan duplikat pengetahuan navigasi serta keterampilan membuat perahu. Berdasarkan pengetahuan itulah sehingga mereka memulai suatu usaha berlayar sampai kemana mana. Karena mereka sudah menguasai ilmu perbintangan yang diperoleh dan diajarkan oleh bangsa Punisia. Dengan demikian perahu berukuran besar yang secara keseluruhan metodenya maupun teknik pembuatannya telah diwarisi dari orang Punisia. Lantas secara teknis tidak banyak mengalami perubahan konstruksi. Sehingga itu perahu perahu yang diproduksi nenek moyang suku Bugis-Makassar diberinama "Pinisi".


Peran Teknologi Maritim & Pinisi Terhadap Kelahiran Gorontalo.


Mengawali penerapan kultur bahari, pertama tama nenek moyang suku Bugis berlayar menyusuri pantai guna mencari dataran yang luas. Yakni tempat tempat yang subur untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Oleh sebab itu kebanyakan diantara mereka terpencar pencar membentuk komunitas petani dan koloni koloni nelayan dipesisir pantai yang terdapat hasil laut seperti ikan, cumi cumi dsb. Lain dari itu sebagiannya menjadi pemburu pemburu binatang di hutan. Hal itu dilakukan secara rutin untuk memenuhi keperluan pangan yang sedemikian krusial mereka butuhkan. Begitu juga halnya kebutuhan lain yang mendasar bagi perspektif kehidupan mereka, sebagaimana kebiasaan nenek moyang suku bugis, intens bertahan di wilayah temuannya dan mulai membangun perkampungan baru. Maka pada waktu itu, tolok ukur dari usaha perkembangan suatu komunitas masyarakat kepurbaan di Sulawesi, cenderung hanya terfokus pada satu kegiatan yang senantiasa konsideran dengan keterampilan melaut dan paling diminati. Meski keterampilan teknologi perkapalan saat itu masih manual. Akan tetapi manakala kondisi zaman pada saat itu kebudayaan bahari mulai berkembang pesat, sehingganya sewaktu waktu kapal pinisi banyak digunakan untuk melaksanakan bermacam macam aktivitas, termasuk upaya untuk memperluas wilayah wilayah temuan maupun kekuasaan. Mulai dari penaklukkan yang tersistem dengan konsep "Kase'-Pase'-Lase''' (Kekayaan,Legitimasi,Diaspora) kewilayah wilayah kerajaan kecil yang terdapat di pulau pulau terpencil. Hal itu disebabkan oleh karena memperhatikan keadaan bahwa, satu satunya kerajaan di tanah bugis dan cepat berkembang ialah kerajaan Ware' atau Wara'. Lantas, perspektif perkembangan selanjutnya di kemudian hari, otoritas kerajaan itu berganti nama dan sistem pemerintahannya pun berubah menjadi kedatuan. Status kedatuan itu derajatnya setingkat dengan kerajaan kerajaan besar yang pernah ada di nusantara seperti kerajaan Singosari/Majapahit dan kerajaan Sriwijaya. Pola pemerintannya menganut sistem monarki absolut, dipimpin oleh garis keturunan yang berasal dari keluarga bangsawan secara turun temurun yang disebut "Datu". Awal munculnya nama datu itu mendapat pengakuan secara formal dan alami, sezaman dengan masuknya islam di tanah bugis yang disebarkan oleh orang orang melayu kuno. Tetapi hal itu berimplikasi dalam waktu lama dan terealisasi dengan utuh dikemudian hari berkisar pada abad 15 masehi.


Bermula pada abad ke-9 kerajaan Ware' atau disebut kerajaan Luwu Purba yang berpusat di dataran rendah bertempat di wilayah selatan pegunungan Verbeg, melakukan perluasan wilayah menuju arah utara. Dan bersamaan pada waktunya terjadi peristiwa kelahiran dua orang anak kembar emas, dari seorang rajanya yang bernama Batara Lattu dengan permaisurinya yaitu We Datu Sengeng. Atas kelahiran anak kembar itu mengantarkan Ware' pada suatu perubahan otorita kultural. Sebab kedua anak itu yakni Sawerigading dan We Tenriabeng (Rawe) harus dipisahkan terlebih dahulu dari tanah kelahirannya, terjadi pada tahun 543 hijriah atau kira kira tahun 1106 masehi. Perihal pemisahan anak kembar emas seperti itu menjadi ketentuan menurut adat istiadat dalam kepercayaan orang bugis pada masa purba. Karena mereka masih mempercayai mitos dan saat itu diyakini oleh warga Ware'. Keduanya dipisahkan untuk memenuhi kewajiban ritual, sebagai tulak bala atau tumbal pada peristiwa kelahiran anak kembar emas. Yang mana menurut tradisi kelahiran manusia kembar emas oleh masyarakat Ware' merupakan hal yang disakralkan. Tetapi dalam hal itu, selain tradisi peradatan purba, terjadi pula perbedaan pandangan diantara pihak keluarga kerajaan. Sebahagian dari mereka dililit rasa kekhawatiran atas kehadiran Sawerigading dan kembarannya, bahwasanya bilamana suatu saat mereka telah dewasa akan saling jatuh cinta kepada sesama saudaranya. Adapun situasi seperti itu jika terjadi dalam lingkungan kerajaan merupakan hal tabu bagi sesepuh negeri Ware' dan seluruh rakyatnya.


Secara psikologis memang terjadi konflik dalam keluarga kerajaan, apalagi ketika melihat Rawe pada saat dilahirkan sangat menyolok aura di wajahnya. Terpancar cahaya kecantikannya dan entah harus bagaimana ketentuan dari Sang Pencipta, sebab kedua anak itu ditakdirkan jadi kembar emas. Inilah yang menjadi dalih dan pemicu hingga mau tak mau mereka harus dipisahkan karena tradisi/adat istiadat.


Sang ayah kemudian membawa Sawerigading pergi ke negeri atas. Negeri yang dimaksud adalah menuju ke arah utara melintasi pegunungan verbeg, sebagaimana yang disebut negeri Ware'. Akan tetapi perjalanan itu dilakukan dengan pelayaran melalui jalur laut dan menggunakan perahu pinisi yang terdiri dari kayu walenreng. Mereka berangkat dari Teluk Bone dan melewati Tompotikka, kemudian menyeberangi teluk Tomini hingga menempuh pantai pada sebuah tanjung dan masuk ke muara sungai Bone dan sungai Bolango menuju Padengo-Tamalate. Dan seterusnya mereka memperhatikan kawasan itu laksana menemukan lembah yang subur lalu menamakannya Lipu Remmang Ri Langi. Penamaan wilayah itu oleh karena ditandai dengan banyaknya gumpalan gumpalan kabut dan layak untuk dihuni. Oleh sebab itu dijuluki "Negeri Wa'ding" atau Wadeng karena kesuburan tanahnya, kemudian disitulah Sawerigading hidup hingga remaja. Suatu wilayah tujuan yang kelak akan diberikan kepada Sawerigading untuk dikuasainya, setelah ia tumbuh dewasa dan bakal menjadi pemimpin yang perkasa dan tangguh dalam pengembaraan.


Sawerigading tidak hanya menjadi pewaris pemimpin kerajaan yang diperoleh dari orang tuanya, melainkan ia juga menjadi penakluk beberapa pemimpin kerajaan yang menjadi rival beratnya selama melanglang buana. Dirujuk dalam hikayat Sureq La Galigo, bahwasanya pada suatu saat Batara Guru dan Batara Lattu (Kakek dan Ayah Sawerigading) dipanggil pulang ke negeri asalnya untuk selama lamanya oleh penguasa langit dan bumi (Tuhan YME). Maka sebelum waktu yang sudah ditentukan, Sawerigading datang menemui keluarganya. Lantas, sesampainya di Ware' dan pada saat pandangan pertamanya ketika ia meliha Rawe bersama dengan seluruh keluarganya, Sawerigading jatuh cinta kepadanya. Namun setelah diceritakan bahwa wanita yang dimaksud adalah saudara kembarnya, dan setelah mengetahui hal itu ia sangat kecewa kemudian hendak segera pulang ke Wadeng dan bersumpah tidak akan kembali lagi di tanah kelahirannya. Bahkan kekecewaan itu semakin menumpuk oleh karena tradisi kepemimpinan serba kolot yang diwarisi, tidak sesuai dengan perkembangan bakatnya dan hasratnya sebagai manusia yang lahir dan tumbuh menjadi seorang yang tangguh dan perkasa. Apalagi timbulnya kekecewaan pada diri Sawerigading sehingga tak semata mata hanya ingin pulang ke negeri Wadeng, melainkan ia pergi mengembara puluhan tahun untuk mencari kekasih hatinya yang serupa dengan saudara kembarnya.


Dua puluh tiga tahun kemudian tibalah saatnya peringatan bagi keluarga datu yang pernah disampaikan kepada Rawe, suatu wasiat berupa pesan terakhir dari Batara Lattu kepada anaknya. Yaitu kelak apabila Rawe sudah dewasa hendaknya ia segera mencari negeri tempat dimana saudara kembarnya di buang lantas menemuinya disana. Sebab mengenang peristiwa dahulu salah satu dari mereka harus dibuang, meski istilah dibuang dengan cara seperti itu agar maksud dan tujuannya untuk memisahkan mereka karena suatu alasan berlakunya aturan dalam peradatan kuno. Tapi beberapa saat kemudian setelah Sawerigading dewasa dan menjadi penguasa Wadeng, oleh karena hanya satu satunya ahli waris dalam kepemimpinan saat itu. Namun tetapi  setibanya disana, Rawe memperhatikan dan melihat negeri itu sudah kosong sebab Sawerigading telah pergi mengembara dan membawa sebahagian besar pengikutnya hingga sampai di Negeri China.


Karena hal itu sehingga Rawe dilanda kerinduan ingin berjumpa dengan saudara kembarnya, walau berbeda dengan apa yang dialami Sawerigading. Namun seperti juga halnya Rawe, ia merasa kecewa karena tak sempat bertemu dengan saudaranya dan bersumpah pula tidak akan kembali di tanah kelahirannya sebelum menemukan Sawerigading. Tak putus harapan ia bersama pengawalnya menelusuri seluruh pesisir pantai hingga menuju ke arah hulu sungai dekat wilayah pegunungan. Dan akhirnya ia bertemu dengan seorang pemimpin sebuah koloni bernama Wolangodula. Rawe pun kemudian dipersunting menjadi isteri Wolangodula dan dikaruniai seorang anak bernama Bulonggaladaa. Hingga berlanjut merekapun mempersatukan serta mengembangkan koloni itu menjadi sebuah kerajaan kuno nan luas bagi Suku Gorontalo-Limboto dan Limboto-Gorontalo. Sampai pada suatu saat wilayah kekuasaannya disebut kerajaan Hulonthalangi.


Berikutnya, kemudian hari terdengar kabar tentang kepulangan Sawerigading dari pengembaraannya. Lalu sesepuh kerajaan menawarkan untuk singgah dan bertemu dengan penguasa setempat yakni Wolangodula, dalam hal ini pemimpin yang digelar "Opunna Wadeng Remmang Ri Langi", yang sudah menguasai wilayah itu. Dan pada saat perjamuan itu dilaksanakan, Sawerigading akhirnya dapat mengetahui saudara kembarnya sudah menjadi permaisuri pemimpin kerajaan itu. Awalnya, cikal bakal kerajaan tersebut terdiri dari 17 linula kemudian distrukturisasi menjadi 9 linula yang tunduk di bawah perintahnya. Wolangodula menjadi raja penguasa negeri karena ia unggul dari berbagai sudut pandang dan keahlian. Hal ini jadi penopang hingga dapat menaklukkan linula linula lainnya. Baik itu keunggulan dari segi ketangkasan dalam pertarungan dan bertempur, maupun karena memiliki banyak tentara dan pasukan pengawal keamanan yang tangkas untuk menangkal serangan musuh dalam peperangan.


Yang menarik untuk diperhatikan adalah didirikannya kerajaan Hulonthalangi bukan merupakan hal ajaib, apabila kerajaan itu tumbuh cepat dan berkembang menjadi satu kekuatan di kawasan Teluk Tomini. Tetapi karena memang asal muasal keturunan mereka adalah dilahirkan dan dibangun melalui proses regenerasi dan periodisasi sejak terjadinya konflik selama berabad abad yang pernah di alami oleh seluruh keturunannya.


Kini faktanya dapat ditinjau dari berbagai analisa kajian tentang kenyataan dan kisah akhir dari keduanya, sehingga mereka dapat menabur benih benih keturunan yang bakal mewarisi tahta kerajaan negeri Wadeng yang mempunyai nama lain yaitu kerajaan Hulonthalangi. Sedang itu pada kelanjutan hikayat Sawerigading pun disampaikan kepada khalayak/umum. Dihadapan seluruh rakyat penghuni lembah Hulonthalangi. Bertindak seorang juru penerangan (Pa' wicara) mengumumkan bahwa Sawerigading juga telah mendapatkan wanita pendamping hidupnya yang mirip dengan wajah saudara kembarnya (Rawe). Dia adalah We Cudai asal kebangsaan dari negeri China.


Akhinnya, pada pengujung hikayat sekonyong konyong terungkaplah makna atas problem sejarah bahwa, Sawerigading bukan hanya menuai hasil kecintaannya pada tanah airnya dan berbelas kasih terhadap sanak saudaranya, sehingga dan karena itu ia memilih untuk segera pergi mengembara lagi ketimbang mengambil alih kembali tahta dan tanah kekuasaannya yang diwarisi dahulu. Sampai akhir hayatnya pun anak-cucu keturunannya masih bertanya tanya, apakah Sawerigading mempunyai anak selain La Galigo dari hubungan cinta kasihnya kepada We Cudai dan dimanakah ia dimakamkan.


Sumber :

1. Naskah Sureq La Galigo,

2. Manuskrip Raja Bulango,

3. Buku Bangsa Limo Pohalaa oleh Prof.DR.Samin Radjik Nur (Sahmina R Nur) diterbitkan oleh:

Koninklijk Institut Voor Taal - Land En Volkenkunde bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI).


(Pablo Maman Ntoma)

Friday, July 24, 2020

Jejak para Habib di Gorontalo

Tidak diketahui dengan pasti awal dari bangsa arab di Gorontalo, catatan resmi Van Den Berg tahun 1859 sekitar 18 orang kelahiran arab yang tinggal Gorontalo. Kedatangan Bangsa Arab di Gorontalo sudah ada abad ke 13 M dengan pelayaran niaga di Indonesia Timur . Bangsa Arab yang datang berdagang di Nusantara ada juga sebagai mubalig meminta agama Islam. Mengomentari mereka berasal  dari Hadramaut (Yaman) dan di antara mereka adalah Nabi Muhammad SAW, masyarakat berbicara dengan sebutan Habib atau Sayyid. Sebut saja bermarga Assegaf, Al Habsy, Alhadar, Al jufri dan Al Hasani. Ada seorang makam seorang Aulia bernama Nene Tane Mela Yang terletak di desa Payunga kecamatan Batudaa, Diyakini sebagai keturunan Sayyidina Hasan cucu Nabi Muhammad. Makam ini bertarikh 835 H atau 1432 M. 

A.Keturunan Sayyid Ahmad Bin Muhamad Assegaf.

               Sekitar awal tahun 1800-an, seorang mubalig asal Hadramaud bernama Sayyid Ahmad Bin Muhamad Assegaf tiba di Kwandang dengan menumpang kapal laut. Dalam disepakati, ia kawin dengan anak perempuan Raja Limboto Baruwadi yang bernama Putri Telepulu. Dari hasil perkawinnanya itu, Sayyid Ahmad memiliki anak laki-laki bernama Sayyid Amiri alias Abdul Hamid. Kemudian Sayyid Ahmad kawin lagi dengan Putri Polilihuta, dapat anak laki-laki bernama Sayyid Abdullah. Tahun 1812 Raja Limboto Baruwadi wafat, anak mantunya bernama Sayyid Ahmad Assegaf menjadi Raja Limboto berkuasa tahun 1812-1814.   

Anak dari Sayyid Ahmad Assegaf, yaitu Sayyid Amiri Assegaf kawin dengan putri Miya dapat anak:

1 . Syarifah Tanembo

2. Syarifah Siti

3. Syarifah Zainab

4. Marsaoleh Batudaa Sayyid Mahmud

 

Dalam catatan silsilah, anak dari Sayyid Amiri Assegaf yaitu, Syarifah Siti kawin dengan Marsaoleh

Pomuayadu Olii bin Raja Iskandar Olii, dapat anak Jogugu Limboto Haidar Olii.

Syarifah Zainab kawin dengan Apitalau Rahmola dapat anak-anak Kadli Limboto Arsyad Rahmola

 

Berikut ini bagan silsilah keturunan Sayyid Ahmad Bin Muhammad Assegaf.

 


B. Kapiten Arab Sayyid Muhammad Bin Salim Alhadar

Sayyid Muhammmad Alhadar memimpin sebagai kapten Arab (Kepala Kampung) di Kota Gorontalo antara tahun 1908-1912. Sebelum dibantu Kapten Arab, Sayyid Muhammad adalah penyiar islam di Kota Gorontalo. Memiliki dua orang isteri, yaitu Tinombu Usman dan Nou Labago.Beliau wafat tahun 1933 dan dimakamkan di Masjid Jami Baiturahim Kota Gorontalo. Salah satu keturunannya adalah Prof.Dr. Ir. Habib Fadel Muhammad yang pernah diambil Gubernur Gorontalo periode 2001-2009.

Makam Sayyid Muhammad Alhadar


 C. Marga  Alhabsy (revisi)

Berkaitan dengan marga Alhabsy bahwa Raja Iskandar Mbuinga Monoarfa (1851-1858) mengawini putri dari Sayyid Alwi Alhabsy. Dari sayyid Alwi Alhabsy ini Raja Iskandar Mbuinga Monoarfa memperdalam ilmu Agama Islam dan mahir bebahasa Arab. Begitupula dengan Raja Zainal Abidin Monoarfa, neneknya bernama Jamila Alhabsy. Jamila Alhabsy kawin dengan Jogugu Malengga mendapat anak perempuan bernama Putri Mida, kemudian Putri Mida kawin dengan Jogugu Husaini Monoarfa dapat anak bernama Raja Zainal Abidin Alhabsy Monoarfa.

Selain itu ada seorang dikenal sebagai Aulia bermarga Alhabsy dikenal masyarakat lokal dengan nama Habib Tuani Da'a. Menetap di Gorontalo sekitar awal tahun 1800an. Makam beliau berada di kelurahan Donggala, Kota Gorontalo.

Pusara makam Tuani Da'a




Sunday, July 19, 2020

Dinasti Lepehulawa-Tintito

Raja Gorontalo Lepehulawa Pengoliwu berkuasa pada tahun 1686-1735, ia menggantikan ayahnya Raja Polamolo II Tomito. Saat Raja Gorontalo Lepehulawa berkuasa, adalah awal kekuasaan VOC di wilayah  Gorontalo   pasca perang Padengo tahun 1681. Pada tahun 1705 VOC mendirikan kantor perdagangan (factorij) di Gorontalo yang mengatur segala kontrak peragangan dengan raja-raja di Gorontalo. Adanya kantor perdagangan ini maka VOC dinyatakan telah menguasai wilayah Gorontalo.         

Ratu Limboto Tintito berkuasa pada tahun 1700-1750, ia adalah anak perempuan dari hasil perkawinan Raja Gorontalo Walangadi   dan Putri OTU. Ratu Tintito kawin dengan Raja Lepehulawa Pongoliwu dan memiliki anak turunan; yaitu:

1.      Sultan Nu'wa

2.      Sultan Biauddin

3.      Sultan Hulupango

4.      Sultan Detu II

5.      Putri Tipayo

6.      Putri Padaki

7.      Putri Patili

8.      Putri Telemoyito

9.      Putri Hadijah

 

Dari perkawinan Lepehulawa-Tinito, anak keturunannya yang menjadi   penguasa kerajaan adalah; Sultan Nu'wa   berkuasa di Kerajaan Gorontalo tahun 1735-1764 bergelar "Ta to Membaru". Adapun Sultan Biauddin, Sultan Hulupango dan Sultan Detu II menjadi penguasa di Kerajaan Limboto.

Tercatat Ratu limboto Tintito   bersama putranya, raja Gorontalo Nuwa ikut menandatangani kontrak dengan VOC di Ternate pada tahun 1739.

 

Gambar 1.   Silsilah Lepehulawa Pongoliwu dari jalur keturunan Sultan Nuwa


Gambar 2. Silsilah Lepehulawa Pongoliwu dari jalur Keturunan   Sultan Detu II


Friday, June 26, 2020

Tom Olii dan Organisasi Muhammadiyah di Gorontalo


Sejarah berdirinya organisasi islam Muhamadiyah tidak terlepas dari sosok seorang ulama bernama KH Ahmad Dahlan. Berdiri sejak 18 November 1912 di Yogyakarta, Muhammadiyah lebih fokus ke masalah dakwah dan pendidikan. Tahun 1938 Muhammadiyah telah melebarkan organisasinya ke wilayah Indonesia. Khusus di Sulawesi Utara, organisasi Muhammadiyah pertama kali terbentuk pada tahun 1928 di Sangir Talaud. Tahun 1929 Muhammadiyah hadir di Gorontalo dan perkembangan selanjutnya tahun 1930 telah menyebar ke Manado dan wilayah Sulawesi Tengah        

               

 Awal berdirinya Organisasi Muhammadiyah di Gorontalo di perkenalkan oleh Yusuf Otoluwa, lulusan dari Kweekschool Jogjakarta. Hingga terbentuklah kepengurusan cabang Muhamadiyah di Gorontalo pada tanggal 9 September 1929 yang dilaksanakan di gedung bioskop Fortuna (Bioskop Murni), sebagai ketuanya adalah Tom Olii dan wakil ketua adalah Yusuf Otoluwa.

 

Foto Tom Olii

       Mengenal sosok tokoh Muhamadiyah Tom Olii, ia bangsawan dan cucu dari Raja Limboto Iskandar Olii. Sebagai cucu dari Raja Limboto, ia berpeluang   menduduki jabatan Jogugu atau setingkat Bupati, namun ia memilih mengabdi di organisasi Muhammadiyah. Tidak tanggung tangung semua harta dan warisan yang diperolehnya disumbangkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan Organisasi Muhamadiyah.  Ketika ia menjadi Konsul Wilayah Muhammadiyah Celebes Utara (kepemimpinan setingkat Ketua Wilayah) organisasi Muhammadiyah berkebang maju, hampir semua wilayah   seperti Minahasa, Mando, Bolaang Mongondow   dan wilayah Sulawesi Tengah   telah terbentuk kepengurusan Muhammadiyah dan fasilitas Pendidikan Muhammadiyah.

 

Tom Olii (tanda xx) bersama Pengurus Organisasi Muhammadiyah tahun 1929

Ada kisah pada masa kepemimpinannya sekitar tahun 1932, saat perayaan Idhul adha di Masjid Jami Kota Gorontalo dan sekaligus diselengarakan acara rapat raksasa. Acara ini  menghadirkan beberapa mubalig   untuk berpidato di halaman Masjid Jami Kota Gorontalo. Ketika salah seorang mubalig sedang berpidato, tiba tiba inspektur polisi Bekker  segera menghentikan pidatonya  karena menurut dia isi pidato itu  provokatif. Karena insiden  ini,  beberapa orang  menyerang polisi keamanan, Tom Olii sebagai pimpinan acara bersama dengan Jogugu Gorontalo Rais Monoarfa segera turun tangan untuk meredam kemarahan warga.  

Selain aktif di organisasi Muhamadiyah, Tom Olii juga aktif di bidang Politik. Menjelang Kemerdekaan Indonesia Tom Olii pernah duduk di Panitia Persiapan Kemerdekaa Indonesia (PPKI) Sulawesi utara dan tengah tahun 1945. Pasca kemerdekaan Indonesia Tom Olii pernah menjadi anggota dewan khusus Negara Indonesia Timur (NIT) pada tahun 1949.   


Saturday, June 13, 2020

Klan Olii (Keturunan Raja Limboto Muhammad Iskandar Olii)


Setelah Raja Limboto Hasan Mohammad Monoarfa wafat tahun 1841, penggantinya adalah Raja Muhammad Iskandar Olii. Sebelumnya Olii adalah Jogugu Gorontalo, menjadi raja Limboto antara tahun 1841-1862. Semasa  ia berkuasa mengubah struktur pemerintahan, seperti Lipu menjadi Distrik, kemudian ibukota kerajaan yang ada di Bongo dipindahkan ke Hunggaluwa-Kayumerah. Ketika raja  Olii berkuasa, banyak masyarakat Boalemo yang menetap di wilayah kerajaan Limboto pindah tempat tinggal karena masalah pajak yang dibebankan pada mereka terlalu besar. Catatan lain tentang dia adalah pembebasan budak sebanyak 600 orang. 

Raja Iskandar Olii adalah raja terakhir Kerajaan Limboto, setelah wafat pada tahun 1862 untuk sementara kerajaan Limboto diperintah oleh Marsaoleh. Beberapa anak/cucu dari Raja Olii pernah menduduki jabatan Marsaoleh dan Jogugu.

Anak dari Raja Muhamad Iskandar Olii yang menjadi marsaoleh Yaitu: 

1.      Pangeran PuE Olii menjadi Marsaoleh Tibawa

2.      Pangeran Pomuayadu Olii menjadi Marsaoleh Tapa (1864) dan Marsaoleh Atinggola 

3.      Pangeran Haji Suradju Olii menjadi Marsaoleh Kota

Anak dari Pangeran PuE Olii, yaitu Syahrani Olii menjadi Marsaoleh Atinggola

Anak –anak dari Pangeran Pomuayadu Olii, yaitu:

1.      Haidar Pomuayadu Olii menjadi Jogugu Limboto

2.      Hamzah Olii menjadi Marsaoleh Atinggola

3.      Mahamud Olii menjadi Marsaoleh Butaijo (Paguyaman)

 

Anak-anak dari Haidar Pomuayadu Olii, yaitu:  

1.      Jusuf Haidar Olii menjadi Jogugu Limboto

2.      Bumulo Olii menjadi Jogugu Gorontalo 

3.      Nusi Olii menjadi Marsaoleh Atinggola

 

Berikut Keterangan silsilah Raja Iskandar Olii



Catatan tambahan:

Haji Suradju Olii, anak dari Raja Iskandar Olii, mendapat penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1891, atas prestasinya selama menjabat Marsaoleh Kota. Beliau sebelumnya pernah menjabat marsaoleh Tibawa dan Marsaoleh Telaga.   

 Marsaoleh Haji Suradju Olii

Jogugu Haidar P. Olii sebagai Jogugu Limboto, ikut andil dalam proyek pembangunan jalan menghubungkan Tibawa-Kwandang yang dikelola oleh pemerintah hindia Belanda. Proyek ini selesai dan diresmikan tahun 1926