Friday, June 26, 2020

Tom Olii dan Organisasi Muhammadiyah di Gorontalo


Sejarah berdirinya organisasi islam Muhamadiyah tidak terlepas dari sosok seorang ulama bernama KH Ahmad Dahlan. Berdiri sejak 18 November 1912 di Yogyakarta, Muhammadiyah lebih fokus ke masalah dakwah dan pendidikan. Tahun 1938 Muhammadiyah telah melebarkan organisasinya ke wilayah Indonesia. Khusus di Sulawesi Utara, organisasi Muhammadiyah pertama kali terbentuk pada tahun 1928 di Sangir Talaud. Tahun 1929 Muhammadiyah hadir di Gorontalo dan perkembangan selanjutnya tahun 1930 telah menyebar ke Manado dan wilayah Sulawesi Tengah        

               

 Awal berdirinya Organisasi Muhammadiyah di Gorontalo di perkenalkan oleh Yusuf Otoluwa, lulusan dari Kweekschool Jogjakarta. Hingga terbentuklah kepengurusan cabang Muhamadiyah di Gorontalo pada tanggal 9 September 1929 yang dilaksanakan di gedung bioskop Fortuna (Bioskop Murni), sebagai ketuanya adalah Tom Olii dan wakil ketua adalah Yusuf Otoluwa.

 

Foto Tom Olii

       Mengenal sosok tokoh Muhamadiyah Tom Olii, ia bangsawan dan cucu dari Raja Limboto Iskandar Olii. Sebagai cucu dari Raja Limboto, ia berpeluang   menduduki jabatan Jogugu atau setingkat Bupati, namun ia memilih mengabdi di organisasi Muhammadiyah. Tidak tanggung tangung semua harta dan warisan yang diperolehnya disumbangkan untuk kegiatan yang berkaitan dengan Organisasi Muhamadiyah.  Ketika ia menjadi Konsul Wilayah Muhammadiyah Celebes Utara (kepemimpinan setingkat Ketua Wilayah) organisasi Muhammadiyah berkebang maju, hampir semua wilayah   seperti Minahasa, Mando, Bolaang Mongondow   dan wilayah Sulawesi Tengah   telah terbentuk kepengurusan Muhammadiyah dan fasilitas Pendidikan Muhammadiyah.

 

Tom Olii (tanda xx) bersama Pengurus Organisasi Muhammadiyah tahun 1929

Ada kisah pada masa kepemimpinannya sekitar tahun 1932, saat perayaan Idhul adha di Masjid Jami Kota Gorontalo dan sekaligus diselengarakan acara rapat raksasa. Acara ini  menghadirkan beberapa mubalig   untuk berpidato di halaman Masjid Jami Kota Gorontalo. Ketika salah seorang mubalig sedang berpidato, tiba tiba inspektur polisi Bekker  segera menghentikan pidatonya  karena menurut dia isi pidato itu  provokatif. Karena insiden  ini,  beberapa orang  menyerang polisi keamanan, Tom Olii sebagai pimpinan acara bersama dengan Jogugu Gorontalo Rais Monoarfa segera turun tangan untuk meredam kemarahan warga.  

Selain aktif di organisasi Muhamadiyah, Tom Olii juga aktif di bidang Politik. Menjelang Kemerdekaan Indonesia Tom Olii pernah duduk di Panitia Persiapan Kemerdekaa Indonesia (PPKI) Sulawesi utara dan tengah tahun 1945. Pasca kemerdekaan Indonesia Tom Olii pernah menjadi anggota dewan khusus Negara Indonesia Timur (NIT) pada tahun 1949.   


Saturday, June 13, 2020

Klan Olii (Keturunan Raja Limboto Muhammad Iskandar Olii)


Setelah Raja Limboto Hasan Mohammad Monoarfa wafat tahun 1841, penggantinya adalah Raja Muhammad Iskandar Olii. Sebelumnya Olii adalah Jogugu Gorontalo, menjadi raja Limboto antara tahun 1841-1862. Semasa  ia berkuasa mengubah struktur pemerintahan, seperti Lipu menjadi Distrik, kemudian ibukota kerajaan yang ada di Bongo dipindahkan ke Hunggaluwa-Kayumerah. Ketika raja  Olii berkuasa, banyak masyarakat Boalemo yang menetap di wilayah kerajaan Limboto pindah tempat tinggal karena masalah pajak yang dibebankan pada mereka terlalu besar. Catatan lain tentang dia adalah pembebasan budak sebanyak 600 orang. 

Raja Iskandar Olii adalah raja terakhir Kerajaan Limboto, setelah wafat pada tahun 1862 untuk sementara kerajaan Limboto diperintah oleh Marsaoleh. Beberapa anak/cucu dari Raja Olii pernah menduduki jabatan Marsaoleh dan Jogugu.

Anak dari Raja Muhamad Iskandar Olii yang menjadi marsaoleh Yaitu: 

1.      Pangeran PuE Olii menjadi Marsaoleh Tibawa

2.      Pangeran Pomuayadu Olii menjadi Marsaoleh Tapa (1864) dan Marsaoleh Atinggola 

3.      Pangeran Haji Suradju Olii menjadi Marsaoleh Kota

Anak dari Pangeran PuE Olii, yaitu Syahrani Olii menjadi Marsaoleh Atinggola

Anak –anak dari Pangeran Pomuayadu Olii, yaitu:

1.      Haidar Pomuayadu Olii menjadi Jogugu Limboto

2.      Hamzah Olii menjadi Marsaoleh Atinggola

3.      Mahamud Olii menjadi Marsaoleh Butaijo (Paguyaman)

 

Anak-anak dari Haidar Pomuayadu Olii, yaitu:  

1.      Jusuf Haidar Olii menjadi Jogugu Limboto

2.      Bumulo Olii menjadi Jogugu Gorontalo 

3.      Nusi Olii menjadi Marsaoleh Atinggola

 

Berikut Keterangan silsilah Raja Iskandar Olii



Catatan tambahan:

Haji Suradju Olii, anak dari Raja Iskandar Olii, mendapat penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1891, atas prestasinya selama menjabat Marsaoleh Kota. Beliau sebelumnya pernah menjabat marsaoleh Tibawa dan Marsaoleh Telaga.   

 Marsaoleh Haji Suradju Olii

Jogugu Haidar P. Olii sebagai Jogugu Limboto, ikut andil dalam proyek pembangunan jalan menghubungkan Tibawa-Kwandang yang dikelola oleh pemerintah hindia Belanda. Proyek ini selesai dan diresmikan tahun 1926


Saturday, June 6, 2020

Negeri Sumalata (Tumolata) pada zaman HINDIA Belanda



        Nama Sumalata sebelumnya adalah Tumolata, Kompeni Belanda sulit mengeja kata Tumolata, dan menyebutnya “SUMALATA”. Keberadaan wilayah Tumolata dikaitkan dengan kembalinya putri Ntobango dan tiliaya dari pengasingan akibat perang Limutu-Gorontalo.  Menurut tradisi lisan bahwa  armada Laut Kerajaan Gowa membawa dua putri tersebut  sampai di suatu daerah di wilayah Sumalata, nama tempat itu adalah Tolinggula. Bertemulah mereka dengan penjemput yang diutus Kerajaan Limutu, diantara penjemput itu ada Jogugu Popa dan Pomalo. Kemudian kedua pembesar itu menuju suatu pulau bernama “Lito Hutakalo” menemui pemimpin Kerajaan Gowa agar tidak menyerbu kerajaan Hulontalo.  Menurut  penuturan Akuba Imran,  dikemudian hari Raja limutu mengangkat pemimpin  di Tumolata dengan gelar Walaopulu. Wilayah Tumolata terdiri dari 5 desa yaitu Deme, Buladu, Wubudu, Bulontio dan tolinggula. Dan Walaopulu pertama di Tumolata adalah Hepu, kemudian diganti Toana dan terakhir adalah Amara. Setelah itu Tumolata berubah status menjadi Distrik Sumalata yang dikepalai seorang Marsaoleh. Hulango Puti sebagai Marsaoleh yang pertama pada tahun 1899. Desa yang ada di Distrik Sumalata menjadi bertambah, yaitu Deme I, Deme II, Buladu, Wubudu, Bulontio, Buloila, Biau dan Tolinggula. Hulango Puti hanya menjabat Marsaoleh Sumalata selama setahun karena wafat ketika menjalankan ibadah haji ke Mekkah, ia digantikan oleh Bulonggodu Dangkua.

       Semasa Hulango Puti menjabat Marsaoleh Sumalata, terajadi peristiwa pergolakan yang dipimpin dua orang bersaudara, yaitu Tamu’u dan Olabu. Awal dari pemicu ini adalah sengketa lahan milik pribumi dengan perusahaan tambang belanda bernama NV Minjbouw Maatschapij Soemalata. Perusahaan tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1890. Tamu’u dan Olabu terlibat pembunuhan terhadap kepala kampung bernama Teme Hapasi yang dianggap berpihak pada perusahaan tambang  dan disusul pembunuhan mandor tambang bernama Herman Knappert pada tanggal 3 maret 1899. Laporan Hindia belanda menyebutkan terjadi kerusuhan pada tanggal 10 maret 1899 dengan sasaran beberapa pekerja cina dan pos pasukan belanda. Pada tanggal 17 maret 1899 datanglah bala bantuan pasukan Belanda dipimpin letnan De Bock dan hanya beberapa hari saja kerusuhan dapat dipadamkan, Tamu’u dan Olabu ditangkap dan dibawah ke Manado untuk diadili. Akibat kerusuhan itu pekerja tambang asal china mengungsi dan terancam kelaparan, karena sisa-sisa perusuh yang melarikan diri meblokade bahan makanan dari luar daerah. Marsaoleh Hulongo Puti membuat kesepakatan dengan pejabat pemerintah Gezaghebber. Pihak Gezaghebber menanggung akomodasi bahan makanan dan untuk pengawalan bahan makanan ditangani oleh Marsaoleh Hulango Puti.

       Keberadaan aktifitas tambang emas di Sumalata sudah ada sejak tahun 1865. Semula tambang emas tersebut dikerjakan penduduk lokal, ditahun 1896 perusahaan asal Belanda milik keluarga Bauermann mendapat ijin untuk mengelola pertambangan emas dibawah perusahaan NV Minjbouw Maatschapij Soemalata. Perusahaan ini banyak memperkerjakan buruh tambang yang didatangkan dari cina dan sisanya dari luar daerah termasuk penduduk lokal juga. Tercatat pada tahun 1902 NV Minjbouw Maatschapij Soemalata memiliki buruh tambang sebanyak 851 orang. Keberadaan tambang ini, ikut mempengaruhi mobilitas ekonomi di Sumalata, banyak para pedagang asal arab dan cina datang dan menetap serta mendirikan bangunan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan dari masyarakat setempat. Pada masa itu Desa Deme II menjadi ibukota distrik Sumalata, beberapa fasilitas pemerintahan dan pendidikan didirikan. Selain itu tersedia listrik untuk menerangi gedung pemerintahan dan pertokoan, juga terdapat pelabuhan alam yang melayani kapal laut dari Singapur, Makassar dan dari Manado. Sehingga distrik Sumalata saat itu dijuluki “ Singapura kecil “ di Gorontalo.

Pantai Sumalata tahun 1917
Pantai Sumalata tahun 1917

           Konsekwensi dari aktifitas tambang di Sumalata menyebabkan terjadi kerusakan hutan serta ancaman longsor dan erosi dari areal lahan. Pada tahun 1926 terjadilah banjir bandang, ibukota  Deme II mengalami kerusakan yang sangat parah, gedung pemerintahan, rumah penduduk dan tempat usaha banyak mengalami kerusakan. Pusat pemerintahan dipindahkan di sekitar pelabuhan tanjung Pongoala, berikut di bangun kembali bangunan toko di sepanjang pantai Pongoala.

Reruntuhan rumah Marsaoleh Sumalata tahun 1927
Reruntuhan rumah Marsaoleh Sumalata tahun 1926 (kanan)
Rumah dinas Marsaoleh tahun 1927-1958 (kiri)