Saturday, November 21, 2020

Pejuang asal Gorontalo (2)

 Aloei saboe

Lahir di Gorontalo 11 November 1911 adalah seorang dokter, akademisi dan tokoh pejuang kemerdekaan. Aloei Saboe menyelesaikan pendidikan dokternya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) yang kini berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Setelah lulus dari pendidikan dokternya, ia ditempatkan di semarang hingga akhirnya di Gorontalo pada tahun 1942.

Aloei Saboe telah berkontribusi selama lebih dari 30 tahun dalam pemberantasan penyakit kusta dan ikut serta menyiapkan RS di desa Toto di Kabila, Gorontalo. Jabatan terakhir Aloei Saboe adalah menjadi wakil Kepala pengawas dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat.

dr. Aloei Saboe (x), foto tahun 1955
     

Dalam organiasasi ia pernah aktif sebagai anggota Jong islamieten bond pada tahun 1926, ikut serta dalam PNI pada tahun 1935. Pernah terpilih sebagai ketua umum PNI cabang Gorontalo pada kongres yang pertama. Ikut bersama Nani Wartabone pada peristiwa 23 Januari 1942 dan saat terjadi perang revolusi Kemerdekaan RI tahun 1946-1947, Aloei Saboe ikut serta dalam mengirimkan pasokan obat obatan dan alat kesehatan kepada para pejuang kemerdekaan di Banyuwangi, Jawa Timur. Atas jasa perjuangannya Pemerintah RI memberikan tanda jasa berupa Bintang Gerilya dan satyalencana peristiwa Aksi Militer I dan II. Wafat pada tangga 31 agustus 1987 dan dimakamkan di taman makam pahlawan Jakarta.


Monday, November 9, 2020

Pejuang asal Gorontalo

Mayor Abdullah Idrus alias Dullah

Lahir di Gorontalo, pernah menjadi pelaut dan saat Jepang menduduki Indonesia Dullah bekerja sebagai penarik becak di Surabaya. November 1945 bergabung di Tentara Laut Republik Indonesia, karena kecakapannya dalam berperang diberi pangkat Kapten walaupun beliau buta huruf.

Pada tahun 1947, Dullah kawin dengan Wims Umampan yang berprofesi sebagai guru. Istrinya mengajari Dullah hingga bisa membaca dan menulis, teman sejawat Dullah yaitu Kapten F.J Tumbelaka turut membantunya mengajari baca tulis dan bisa memahami bahasa Belanda dan Inggris secara pasif. Kapten F.J Tumbelaka dikemudian hari menjadi Gubernur Sulutteng tahun 1962-1964.

Tahun 1948 Dullah diberi kepercayaan sebagai komandan pasukan Batalyon, ikut penumpasan Peristiwa Madiun dan berjuang saat Agresi Belanda II. Pangkatnya dinaikan menjadi Mayor. Saat berada di Ambon tahun 1950 membasmi pemberontakan RMS, mayor Dulllah gugur bersama Letko Slamet Riyadi. 

Mayor Dullah dimakamkan di pulau Geser, Kepulauan Seram, Maluku. Atas jasa perjuangannya, Mayor Dullah dinaikan pangkatnya menjadi Letkol Anumerta.

Saturday, November 7, 2020

Pelaut Bugis dan VOC di Teluk Tomini

       Penangkapan dan Pengasingan Raja Bia Ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan bukan berarti Kerajaan di Gorontalo sepenuhnya bisa dikendalikan oleh VOC. Pejabat Bangsawan di Kerajaan Gorontalo dan Limboto tidak kooperatif dengan VOC dalam hal kegiatan perdagangan karena tidak menguntungkan secara Ekonomi. Pejabat bangsawan lebih suka bertransaksi dalam perdagangan dengan pelaut Bugis dan Mandar. Bagi pihak VOC Belanda, sebutan pelaut Bugis dan Mandar sebagai “Perampok dan Bajak laut “, akibat aktifitas orang Bugis dan Mandar di perairan Teluk Tomini pihak VOC merasa dirugikan. Tahun 1702 utusan VOC menghadap Raja Gorontalo Walangadi membicarakan keberadaan pelaut bugis dan mandar yang diketahui telah memiliki sarang pertahanan di wilayah pantai Teluk Tomini. Raja Gorontalo tidak bisa mengatasi keberadaan pelaut bugis ini. Utusan VOC kembali ke Ternate dan menghadap Gubernur Maluku, dari hasil laporan utusan VOC itu pihak VOC memutuskan segera menggempur sarang pertahanan “Perompak Bugis dan Mandar”. Sekitar Januari 1703 pasukan armada laut VOC dibantu warga Tambokan menggempur sarang-sarang pertahanan pelaut bugis dan mandar. Tambokan merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate yang terikat dengan perjanjian dengan VOC. Gempuran VOC ini berhasil mengusir mereka dari perairan Gorontalo. 

          Peta tahun 1700 Indonesia Timur


       Para bangsawan Gorontalo dan Limboto yang antipati pada VOC yang mana daerah mereka mengalami kerusakan atas penyerangan VOC, segera melampiaskan kepada orang orang Tambokan. Mereka menangkapi 16 orang Tambokan dan dijadikan budak. Raja Gorontalo dan Raja Limboto pada tanggal 30 November 1705 membuat pernyataan bersama; “mengancam akan membunuh siapapun yang tidak bayar upeti”. Gubernur Maluku menggangap ini sebagai masalah serius ,Sultan Ternate diajak oleh VOC untuk mengatasi situasi politik di Gorontalo. Namun usaha ini sia sia, dan salah satu cara untuk mengatasi hal ini VOC memutuskan memulangkan kembali bekas Raja Gorontalo Bia dari pengasingannya dari Afrika Selatan pada tahun 1706. Dengan harapan bahwa kepulangan eks Raja Gorontalo mampu meredam perlawanan elit bansawan terhadap VOC. Dan cara yang dipakai VOC ini berhasil, untuk sementara waktu situasi di perairan Teluk Tomini aman dan terkendali.


Catatan*

Sepanjang abad 17-19 pihak kompeni Belanda masih saja berusan dengan masalah keamanan di perairan Teluk Tomini. Pejabat bangsawan di Gorontalo tetap berhubungan dagang secara illegal dengan pelaut bugis, terutama ditemukannya emas di wilayah Gorontalo. Akibatnya pemasukan pajak untuk Pemerintah Kolonial Belanda tidak maksimal.


Sumber:

Buku Limo Lo Pahalaa, Sejarah Kerajaan Gorontalo