Friday, January 28, 2022

Sultan Limboto Pakaya

Ada beberapa Raja yang memakai nama Pakaya. Diantaranya Raja Pakaya Libunola, Raja Pakaya Lungudo, Raja Hulangata Pakaya dan Sultan / Raja Limboto Pakaya.

Raja Limboto Pakaya berkuasa tahun 1812-1818, dengan gelar adat "Ta Lodelo Wundu"

Kawin dengan putri Puinga/Mbuinga mendapatkan anak antara lain Walaopulu Pomalango dan Raja Atinggola Kakatua.

Saat Raja Limboto Pakaya berkuasa, Hindia Belanda dikuasai oleh Kerajaan Inggris. Antara Tahun 1810-1812 pihak Inggris melakukan perjanjian Kontrak dengan penguasa kerajaan di wilayah Sulawesi Utara. Tetapi untuk wilayah kerajaan di Gorontalo ( kecuali Atinggola), Inggris tidak melakukan kontrak perjanjian.

Silsilah Raja Limboto Pakaya


Friday, January 14, 2022

Kampung Bilato dan Sungai Paguyaman

Desa Bilato saat ini masuk wilayah Kecamatan Bilato, pada masa lampau Kampung Bilato adalah ibukota Distrik Paguyaman. menurut penjelasan tokoh masyarakat Sukarman Humonggio bahwa Bilato merupakan kampung tertua dan tempat asal muasal orang Paguyaman. Tahun 1800-1900, Kampung Bilato menjadi perkampungan padat. Kampung ini dilalui oleh Muara Sungai Paguyaman. Di seberang Muara Sungai Paguyaman yang berhadapan dengan Kampung Bilato terdapat Desa Girisa yang sekarang masuk wilayah Boalemo. Dahulunya Desa Girisa masih berstatus dusun dan merupakan bagian dari Kampung Bilato. Di Desa Girisa terdapat makam Aulia Pelehu atau Ti Pelehu yang diyakini merupakan wali yang ke -7 di Gorontalo.

Peta tahun 1898 Distrik Paguyaman

Sungai Paguyaman tidak terlepas dari kisah masa lalunya, Pasukan dari Ratu Limboto Moliye memulai berlayar dari sungai ini untuk menaklukan kepulauan Togian di Teluk Tomini. Dan ketika VOC Belanda berkuasa, Sungai Paguyaman adalah tempat pelarian dan persembunyian perahu orang bugis ketika kapal VOC mengejar mereka. Sekitar tahun 1770, Raja Iskandar Monoarfa (Ta To Molou) pernah membangun benteng di Muara Sungai Paguyaman