Saturday, June 6, 2020

Negeri Sumalata (Tumolata) pada zaman HINDIA Belanda



        Nama Sumalata sebelumnya adalah Tumolata, Kompeni Belanda sulit mengeja kata Tumolata, dan menyebutnya “SUMALATA”. Keberadaan wilayah Tumolata dikaitkan dengan kembalinya putri Ntobango dan tiliaya dari pengasingan akibat perang Limutu-Gorontalo.  Menurut tradisi lisan bahwa  armada Laut Kerajaan Gowa membawa dua putri tersebut  sampai di suatu daerah di wilayah Sumalata, nama tempat itu adalah Tolinggula. Bertemulah mereka dengan penjemput yang diutus Kerajaan Limutu, diantara penjemput itu ada Jogugu Popa dan Pomalo. Kemudian kedua pembesar itu menuju suatu pulau bernama “Lito Hutakalo” menemui pemimpin Kerajaan Gowa agar tidak menyerbu kerajaan Hulontalo.  Menurut  penuturan Akuba Imran,  dikemudian hari Raja limutu mengangkat pemimpin  di Tumolata dengan gelar Walaopulu. Wilayah Tumolata terdiri dari 5 desa yaitu Deme, Buladu, Wubudu, Bulontio dan tolinggula. Dan Walaopulu pertama di Tumolata adalah Hepu, kemudian diganti Toana dan terakhir adalah Amara. Setelah itu Tumolata berubah status menjadi Distrik Sumalata yang dikepalai seorang Marsaoleh. Hulango Puti sebagai Marsaoleh yang pertama pada tahun 1899. Desa yang ada di Distrik Sumalata menjadi bertambah, yaitu Deme I, Deme II, Buladu, Wubudu, Bulontio, Buloila, Biau dan Tolinggula. Hulango Puti hanya menjabat Marsaoleh Sumalata selama setahun karena wafat ketika menjalankan ibadah haji ke Mekkah, ia digantikan oleh Bulonggodu Dangkua.

       Semasa Hulango Puti menjabat Marsaoleh Sumalata, terajadi peristiwa pergolakan yang dipimpin dua orang bersaudara, yaitu Tamu’u dan Olabu. Awal dari pemicu ini adalah sengketa lahan milik pribumi dengan perusahaan tambang belanda bernama NV Minjbouw Maatschapij Soemalata. Perusahaan tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1890. Tamu’u dan Olabu terlibat pembunuhan terhadap kepala kampung bernama Teme Hapasi yang dianggap berpihak pada perusahaan tambang  dan disusul pembunuhan mandor tambang bernama Herman Knappert pada tanggal 3 maret 1899. Laporan Hindia belanda menyebutkan terjadi kerusuhan pada tanggal 10 maret 1899 dengan sasaran beberapa pekerja cina dan pos pasukan belanda. Pada tanggal 17 maret 1899 datanglah bala bantuan pasukan Belanda dipimpin letnan De Bock dan hanya beberapa hari saja kerusuhan dapat dipadamkan, Tamu’u dan Olabu ditangkap dan dibawah ke Manado untuk diadili. Akibat kerusuhan itu pekerja tambang asal china mengungsi dan terancam kelaparan, karena sisa-sisa perusuh yang melarikan diri meblokade bahan makanan dari luar daerah. Marsaoleh Hulongo Puti membuat kesepakatan dengan pejabat pemerintah Gezaghebber. Pihak Gezaghebber menanggung akomodasi bahan makanan dan untuk pengawalan bahan makanan ditangani oleh Marsaoleh Hulango Puti.

       Keberadaan aktifitas tambang emas di Sumalata sudah ada sejak tahun 1865. Semula tambang emas tersebut dikerjakan penduduk lokal, ditahun 1896 perusahaan asal Belanda milik keluarga Bauermann mendapat ijin untuk mengelola pertambangan emas dibawah perusahaan NV Minjbouw Maatschapij Soemalata. Perusahaan ini banyak memperkerjakan buruh tambang yang didatangkan dari cina dan sisanya dari luar daerah termasuk penduduk lokal juga. Tercatat pada tahun 1902 NV Minjbouw Maatschapij Soemalata memiliki buruh tambang sebanyak 851 orang. Keberadaan tambang ini, ikut mempengaruhi mobilitas ekonomi di Sumalata, banyak para pedagang asal arab dan cina datang dan menetap serta mendirikan bangunan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan dari masyarakat setempat. Pada masa itu Desa Deme II menjadi ibukota distrik Sumalata, beberapa fasilitas pemerintahan dan pendidikan didirikan. Selain itu tersedia listrik untuk menerangi gedung pemerintahan dan pertokoan, juga terdapat pelabuhan alam yang melayani kapal laut dari Singapur, Makassar dan dari Manado. Sehingga distrik Sumalata saat itu dijuluki “ Singapura kecil “ di Gorontalo.

Pantai Sumalata tahun 1917
Pantai Sumalata tahun 1917

           Konsekwensi dari aktifitas tambang di Sumalata menyebabkan terjadi kerusakan hutan serta ancaman longsor dan erosi dari areal lahan. Pada tahun 1926 terjadilah banjir bandang, ibukota  Deme II mengalami kerusakan yang sangat parah, gedung pemerintahan, rumah penduduk dan tempat usaha banyak mengalami kerusakan. Pusat pemerintahan dipindahkan di sekitar pelabuhan tanjung Pongoala, berikut di bangun kembali bangunan toko di sepanjang pantai Pongoala.

Reruntuhan rumah Marsaoleh Sumalata tahun 1927
Reruntuhan rumah Marsaoleh Sumalata tahun 1926 (kanan)
Rumah dinas Marsaoleh tahun 1927-1958 (kiri)

No comments:

Post a Comment