Tuesday, January 7, 2025

Kajian Ta'Uwa Moodelo (2)

MOLAHULI

Setelah sang olongiya menerima gelar ta’uwa, maka para petinggi adat dan para tua-tua melaksanakan prosesi yang disebut molahuli (memberi nasehat, mengungkapkan harapan dan peringatan). Isi dari pesan-pesan tersebut pada pokoknya dimaksudkan agar sang ta’uwa yang baru dilantik ini benar-benar menjalankan kekuasaannya sebagai abdi penyandang beban amanah dari Allah SWT. Berikut ini beberapa tahuli (pesan-pesan) yang penting.

Menjaga harkat dan martabat:

Mbu’i bungale pulu
Wuwa’atiyo tilombulu
Batangiyo taa pulu
Hungaliyo tilombulu

Tuan turunan bangsawan
Asal usul orang keramat
Titisan para pangeran
Anaknya kini dijunjung

Menjaga kerukunan rumah tangga:
 
Dile U dile-dileto
Diludupo duleheto
Bolo ngango molahopo
Mo’o bu’a tomeleto

Istri yang dimanja-manja
Hilangkan kecurigaan
Jikalau mulut berucap salah
Akan terjadi perselisihan/perceraian

Pemimpin menyandang amanah Allah:

Timihupo to madala
To talohu to hulala
To po badari to Allah
To Azza Wajala
Wolo Nabi Mursala
Mo’o piyo to Allah
To’u mo’opiyo to Allah
Bolo du’a de Allah
Umuru Sejahtera

Pimpinlah negeri
Dengan arif dan bijaksana
Sesuai yang digariskan Allah
(yang digariskan Allah) Azza Wajala
Dan (ketentuan dari para) nabi yang suci dan benar
(Bekerja) demi kebaikan Allah
Agar baik di mata Allah
Berdoalah (selalu) kepada Allah
(agar) panjang umur dan sejahtera

Kepemimpinan yang rajin dan tulus:

Olohulo layito
To utiya to uwito
Pulanga pali-palito
U mopiyo to didipo
Bo hale motideto

Rajinlah selalu
Berbuat ini dan itu
Gelar sudah menyelimuti(mu)
Yang terbaik dalam hidup
Hanya hati ikhlas dan tulus

Menaati peraturan:

Donggo ito taa ta’uwa
Lipu hu’a aturuwa
Maa dila li’u-li’uwa
Wonu bolo o li’uwa
Wu’udio opuluwa

Selagi Tuan menjadi ta’uwa
Negeri segeralah diatur
Jangan diselewengkan
Jika terselewengkan
Aturan tegakkanlah

Tegas dalam keputusan/tindakan:

Ami tiyombu tumudu
Hiwolata lo’ wu’udu
Wonu motihuludu
To’olauto tumudu

Kami nenek/kakek penjaga aturan
Mempertahankan kaidah
Jika (kami) membangkang
Tuanlah yang menghakimi

Menjaga diri dari ucapan tercela:

To bandla muliya
Ito ma lo tahuliya
To lipu duluwo botiya
Leule elehiyo
Bolo ilo ilo lo’iya
Lo’iya u dila opiyo
To daata u manusia

Cucunda yang mulia
Kita sudah saling mengikat janji
Di kedua negeri ini
Sekali-kali janganlah
(Janganlah) berkata-kata
Kata-kata yang tidak terpuji
Kepada banyak orang

Kepedulian akan kesejahteraan rakyat:

Ami tiyombu tanggapa
Hepipide Hewalata
Tomobohimu palata
O lale lo huwa data
Dahayi hulalata
Tunggulo u ilomata
Wu’udiyo bubulata
To bandla wombu ilata

Kami kakek/ nenek mengawasi
Semua siap siaga
Mengatasi kesulitan
(demi) kepentingan rakyat jelata
Rawatlah kesejahteraan (rakyat)
Sampai ada karya nyata
Tetapkan norma dan aturan
Bagi anak cucu tercinta

Kedelapan tuja’i tersebut adalah harapan masyarakat (ulipu) agar sang pemimpin atau penguasa menjalankan tugasnya sebgai khalifah pemimpin rakyat dan pemimpin umat yang benar-benar penyandang Amanah Allah, dan menjaga gelar itu sampai pada akhir hayatnya, sehingga gara’i (gelar adat yang diberikan kepada orang yang sudah mangkat) akan lebih tinggi nilainya dari pulanga yang dimiliki semasa hidup, atau sekurang-kurangnya sama derajatnya. Pemimpin mesti dapat meniru bulewe (pokok pinang) seperti pesan para tetua; Donggo hu’u-hu’umo sambe wonu, to’u lo ngo’abu lebe ma’o wonu liyo, tunggulo u maa lo lolante debo wonu-wonu. Artinya; sebelum mekar sangat harum, setelah mekar lebih semerbak harumnya, bahkan ketika dia layu pun tetap harum dimana-mana.

(Sumber: Mo'odelo, 2006, Penerbit: Pustaka Gorontalo, karya
Medi Botutihe, kolaborasi dengan Farha Daulima & Elnino)

Foto : Beberapa di antara banyak buku yang pernah ditulis oleh Medi Botutihe, juga beberapa buku tentang Medi Botutihe.

Elnino M Husein Mohi

Saturday, January 4, 2025

Kajian Ta'Uwa Moodelo (1)

Tulisan Elnino Mohi 

Tuja’i Penganugerahan Gelar Ta’uwa

Dalam prosesi dan upacara penganugerahan gelar ta’uwa, rakyat yang diwakili oleh para pemangku adat mengumandangkan tuja’i-tuja’i (sajak-sajak suci). Sajak-sajak itu berisi aturan atau hukum-hukum yang mengatur kehidupan kejiwaan maupun perilaku si penerima gelar. Beberapa tuja’i yang penting untuk dibahas di sini adalah sebagai berikut.

Tuja’i persatuan Gorontalo-Limboto:

Wallahi-wallahi otutu
Hulontalo Limutu
U tutuwawuwa otutu
Dahayi bolo moputu
Ode janji to buku

Dengan Allah, Dengan Allah sesungguh-sungguhnya
Gorontalo Limboto
Yang sama dan serasi persis
Jangan sampai terputus
Seperti janji yang tertulis

Tuja’i ini mengingatkan bahwa di antara kedua Pohala’a ini (Gorontalo dan Limboto), telah terjalin suatu perjanjian tertulis yang dikukuhkan dengan sumpah pada 12 Sya’ban 1084 H. Limboto dan Gorontalo adalah bersaudara kembar-identik yang tak terpisahkan sepanjang zaman. Tidak mengherankan bila upacara penobatan olongiya lo limutu (Raja Limboto) sebagai ta’uwa dilaksanakan oleh jajaran adat Gorontalo. Begitu pula sebaliknya, bila olongiya lo Hulondlalo (Raja Gorontalo) yang diberi gelar, maka pelaksana upacaranya adalah masyarakat adat Limboto.

Tuja’i peringatan agar jangan tercerai:

Billahi, billahi, billahi
Limutu Hulontalo
Dahayi mawalo
Wonu bolo mawalo
Mowali mobunggalo

Dengan Allah 3x
Limboto Gorontalo
Jaga jangan sampai retak
Jika sampai retak
Akan menjadi hancur berantakan

Tuja’i telah menjelaskan sebab akibat, yaitu jika tidak memelihara kerukunan kedua negeri, maka negeri itu akan hancur dan masyarakat akan menjadi liar kembali. Limboto dan Gorontalo bukan bersaing dengan penonjolan, tetapi saling menopang dalam pembangunan. Perbedaan pendapat mesti dimusyawarahkan dalam lingkaran rasa persaudaraan yang kokoh.

Tuja’i pemantapan:

Tallahi, Tallahi, Tallahi 
Delo tahuwa to nurani
Syara’a wawu adati
Wahu popobiibiya
Adati wawu syari’iya
Dila bolo wohiya motiya
Odudu’a lo tadiya

Dengan Allah 3x
Simpanlah dalam nurani
Syari’at (Islam) dan adat
Buatlah seimbang
Adat dan syariat
Jangan sampai ada tarik-ulur atau terpisah
Akan tertimpa sumpah (kutukan)
 
Tuja’i ini menegaskan bahwa adanya keseimbangan adat sebagai tata karama atau penata moral, syariat adalah kewajiban sebagai muslim dan pelanggaran adat berarti pelanggaran sumpah, pelanggaran syariat adalah dosa. Kedua-duanya akan menerpa setiap manusia pelaku dan penyandang gelar adat.

Tuja’i pengukuhan penguasaan:

Huta, huta lo ito Eeya
Tulu ,tulu lo ito Eeya
Dupoto, dupoto lo ito Eeya
Taluhu,Taluhu lo ito Eeya
Tawu, Tawu lo ito Eeya
Boo ito Eeya dila poluli hilawo

Tanah, tanah milik Tuanku
Api, api milik Tuanku
Angin, angin milik Tuanku
Air,air milik Tuanku
Rakyat, rakyat milik Tuanku
Tapi Tuanku jangan berbuat sesuka hati

Jelas dalam tuja’i tersebut, penyandang gelar ta’uwa diberikan kewenangan pada tanah air, angin, api dan manusia, tapi tidak dibenarkan sewenang-wenang menuruti hawa nafsu.

(Sumber: Mo'odelo, 2006, Penerbit: Pustaka Gorontalo, karya
Medi Botutihe, kolaborasi dengan Farha Daulima & Elnino)

Foto : Pak Medi Botutihe dan ibu Hadidjah Suratinoyo Botutihe dalam suatu kegiatan adat Gorontalo. Copyright foto : Mas Rosyid A Azhar

#gorontalo #artikel

Tuesday, December 10, 2024

Mengenal gelar adat Ta'uwa di Gorontalo

      Ada lima jenis penyebutan untuk gelar Ta’uwa, yaitu Ta’uwa Lo Madala, Ta’uwa Lo Lahuwa, Ta’uwa Lo Hunggiya, Ta’uwa Lo Lingguwa dan  Ta’uwa Lo Daata. Kelimanya dapat pula disebut sebagai Ta’uwa Lo Lipu (Sang Khalifah Negeri). Lima macam penyebutan gelar tersebut sama sekali tidak membedakan status sang ta’uwa. Perbedaan itu hanya pada nama belaka. 

1) Ta’uwa Lo Madala
          Madala bermakna negeri yang indah, dimana pemimpinnya adalah penguasa yang bukan mencari kenikmatan dunia. Seluruh pemikirannya adalah bagaimana menjadikan negeri ini dapat memberikan kesejukan hidup; para petani dan nelayan, para buruh dan pekerja hidup dalam kesederhanaan, kemiskinan dapat diatasi dengan pajak negeri itu sendiri. Penguasa lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan dirinya sendiri. 

Indah bukan berarti negeri ini penuh dengan kemewahan, tetapi indah karena keseimbangan antara kebutuhan lahiriah dan bathiniah. Penguasa adalah panutan karena agamawan, pemerintah senantiasa berkiprah pada tiga jalur tali keadaban, yaitu Buwatulo Totolu atau Buwatulo Towulongo, sehingga moralitas masyarakat terkontrol dan terkendali.

Pemimpin yang berhasil dan memiliki karakter atau sikap bukan untuk mencari kenikmatan dunia inilah yang patut dianugerahi gelar sebagai Ta’uwa Lo Madala.

2) Ta’uwa Lo Lahuwa
 Lahuwa adalah negeri yang memiliki kewibawaan. Kewibawaan ini adalah berkat kepemimpinan seorang penguasa yang bertindak arif dan tegas, berdasarkan peraturan dan perundang-undangan, baik dari tingkat yang lebih atas, maupun aturan-aturan yang dibuat oleh negerinya sendiri.

Bahkan ia tak segan-segan menerapkan hukum Allah, jika aturan yang ada tidak dapat menyelesaikan permasalahan. Ketaatan tentang hukum ini, membuat masyarakat tenang, dan takut membuat pelanggaran. Kepemimpinan penguasa ini wajar jika dianugerahkan sebagai ”Ta’uwa Lo Lahuwa”.

3) Ta’uwa Lo Hunggiya
 Hunggiya adalah negeri yang memiliki daya tarik tersendiri, yaitu negeri yang dipimpin oleh seorang penguasa yang ramah, arif, bijaksana dan penuh kekeluargaan. Negeri ini menganggap bahwa penguasa adalah seorang kepala keluarga, yang membesarkan, memelihara dan menyejahterakan keluarganya, dalam hal ini rakyatnya. Pemimpin ini lebih mementingkan kepentingan rakyatnya dari pada kepentingannya sendiri.

Dalam pemerintahannya penguasa tersebut sangat menghargai fatwa para tua-tua, dan selalu bermusyawarah untuk mufakat. Kebijakan-kebijakan yang penuh kekeluargaan sangat berkesan di hati rakyat sehingga kesan-kesan dalam pembangunan negeri ini selalu dikenang sepanjang masa. Pemimpin atau penguasa yang memiliki karakter ini wajar jika dianugerahkan pulanga sebagai ”Ta’uwa Lo Hunggiya”.

4) Ta’uwa Lo Lingguwa
          Lingguwa dalam konteks ini dimaknai sebagai negeri yang kuat, tahan lama dan awet. Peristilahan lingguwa diambil dari nama sejenis kayu kelas satu yang sangat kuat. Biasanya dipakai sebagai tiang atau pasak utama pada bangunan-bangunan di Gorontalo.

Gelar Ta’uwa lo Lingguwa disematkan kepada seorang pemimpin yang kuat karena wawasannya yang luas, arif karena ilmu yang dimilikinya, tegas dalam tindakan dan konsekuen dengan apa yang menjadi keputusan. Dicintai rakyat karena ketegarannya dalam membela hak rakyat. Kepeduliannya akan umat sangat tinggi, bukan saja di dalam negerinya tetapi di negeri-negeri sekitarnya.

Pembangunan fisik bagi pemimpin ini soal kedua, tetapi pembangunan moral menjadi keutamaan. Sifat keterbukaan membuat penguasa ini tahan kritikan dan hujatan.

5) Ta’uwa Lo Daata
 Daata berarti banyak. Negeri ini banyak kegiatan yang tercipta, baik untuk meramaikan negeri, maupun pembangunan yang bermamfaat untuk masyarakat. Oleh sebab itu penguasa negeri ini banyak jabatan yang di pegangnya, demi untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kemampuan lainnya adalah keberanian dan kemampuannya membuat terobosan baru, yang dapat dinikmati oleh generasi masa kini dan masa yang akan datang. Teguh pendirian, kepedulian akan peningkatan sumber daya manusia menjadi patokan perencanaannya. Pemimpin atau penguasa yang memiliki karakter seperti ini wajar di anugerahkan gelar ”Ta’uwa Lo Daata”.

(Sumber: Mo'odelo, 2006, Penerbit: Pustaka Gorontalo, karya
Medi Botutihe, kolaborasi dengan Farha Daulima & Elnino)

Monday, December 2, 2024

Benteng Oranje

Tulisan Rosyid A Azhar.

Setelah VOC mengambil alih kerajaan Gorontalo dari Ternate pada tahun 1681, Benteng Leiden untuk sementara menjadi satu-satunya bangunan pertahanan batu yang mengawasi perairan yang luas dan sulit dikendalikan di sekitar Sulawesi Utara. 
Benteng ini dibangun di atas fondasi bekas benteng Portugis Ota, benteng yang awalnya dibangun pada tahun 1527 dan baru digunakan beberapa tahun pada masa Portugal mencoba menguasai wilayah tersebut. 
Selain Benteng Leiden, VOC memiliki beberapa pos kecil yang terbuat dari kayu dan tanah dengan jumlah staf yang minim. Baru pada tahun 1764 dibangun benteng batu Nassauw di Gorontalo yang kemudian menjadi pusat kegiatan perusahaan.
Pada tahun 1766, Benteng Leiden diperluas dan direnovasi serta sebuah menara pengawas dibangun di atas bukit tersebut, dan baru pada saat itulah benteng tersebut mendapatkan namanya. Benteng berbentuk persegi panjang ini memiliki dua bastion berbentuk bulat. 
Dari jumlah tersebut, hanya benteng tenggara yang masih ada. Tidak diketahui seperti apa bentuk asli benteng tersebut, tetapi rencana dengan benteng bundar mungkin berasal dari zaman Portugis. Dindingnya setinggi 2-3,5 m dan tebal satu meter. 
Benteng ini merupakan tempat kedudukan sub-pedagang dan garnisun kecil. 
Benteng Leiden ditinggalkan oleh Belanda pada akhir abad ke-18. Pada tahun 1818 benteng ini ditempati kembali oleh seorang sersan dan 12 tentara. 
Benteng Leiden dibubarkan pada tahun 1832 karena garnisunnya dipindahkan ke Soelamatta untuk mengawasi pasokan emas kepada pemerintah.
Benteng yang dipugar sekarang menjadi objek wisata.  Nama saat ini, Benteng Oranje, tidak dapat ditelusuri kembali ke zaman VOC.

Tuesday, November 26, 2024

Laporan Pertanian di Gorontalo tahun 1871

Tulisan dari Rosyid A Azhar

Setelah tinggal selama dua tahun di wilayah asisten residen Gorontalo, Robert Wolter Baron Van Hoevel sudah mampu mengenali kondisi masyarakat dan daerah, termasuk kemampuan mereka di daerah yang padat maupun kurang penduduk.
RW. Baron van Hoevell membuat catatan produk pertanian penting yang dikembangkan di Gorontalo, juga budidaya pertanian baru yang dianggap memiliki prosptektif di masa depan.
Namun kondisi sejumlah daerah di Gorontalo saat itu tidak sepenuh dapat dikontrol oleh pememrintah Hindia Belanda meskipun ada pemerintahan di bawahnya di wilayah Gorontalo, Paguat, Bone, Kwandang dan Limboto, banyak daerah-daerah yang berdiri sendiri dan saling bergesekan satu sama lain. Tidak ada jaminan kepemilikan hak, karena antardaerah terjadi perselisihan. Para pemimpin daerah ini juga menentang upaya pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan kebijakan industri di daerahnya. Para pedagang lokal juga hanya sampai di daerah pesisir untuk melakukan transaksi.
Produk pertanian tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat,  lahan pertanian banyak terdapat tanah keras dan sulit ditanami. Pada daerah ketinggian lapisan tanah atas (top soil) sangat tipis, tidak bisa ditanami tamaman yang memiliki akar dalam. Batu kapur adalah pemandanagn yang biasa. Banyak orang mengira di bagian pegunungan lebih subur, bamun faktanya sebaliknya.
Pengairan pertanian menggunakan sungai alam, hanya ada sungai yang layak dilayari dengan perahu kecil di bagian muara.
Produk pertanian adalah beras, namun komodfitas ini tidak mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Demikian juga dengan produksi jagung. Bulir beras Gorontalo sangat kecil, kadar kapurnya tinggi, nilai gizinya rendah. Jika gabah sudah dikupas menjadi beras, maka daya simpannya pun sangat pendek.
Upaya pemerintah hindia belanda untuk mendatangkan benih padi dari daerah lain banyak dilakulkan, namun  hasilnya tetap saja tidak sesuai harapan. Unsur hara tanah memang sangat minim, meskipun dilakukan pembajakan sawah berulang kali.
Padi yang ditanam di daerah yang memiliki ketersediana iar berlimpah diharapkan dapat memberi hasil panen yang berlimpah. Benih yang berulang ditanam juga diharapkan akan menghasilkan tanaman yang benih yang adaptif.
Setiap tahun banyak ladang yang menganggur, lahan ini tidak dibajak. Dalam beberapa bulan terakhir pemerintah hindia belanda mencatat harag beras berada pada ksaran 6-8 gulden  
Dalam beberapa bulan terakhir harga beras di Gorontalo seringkali berada di antara 6-8  gulden per pikol, namun ketersediaannya sangat langka.
Hampir tidak ada dataran tinggi di wilayay asisten residen Gorontalo, ini berarti bukan daerah yang cocok untuk pengembangan tanaman kopi. Kenyataannya tanaman kopi tidak menghasilkan buah yang maksimal meskipun ada beberapa yang tumbuh baik, naun secara umum produktifitasnya rendah. Pemerintah Hindia Belanda sudah mencoba menanam kopi di daerah ketinggian namun hasiolnya tetao saja tidak sesuai harapan.
Tidak berhasilnya komoditas ini sangat mungkin akibat tipisnya top soil dan rendahnya unsur hara. Kopi yang ditanam di sekitar atau permukiman warga yang sering dipupuk menghasilkan buah yang banyak.
Di komoditas lain, budidaya kapan juga tidak maksimal, bahkan produk kapas tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Gorontalo.
Mengumpulkan produk kapas masyarakat sudah tidak bisa dilakukan, kecuali pememrintah membujuk masyarakat untuk membangun perkebunan kapas dalam jumlah besar yang dapat menjamin pasokan secara teratur maka komoditas ini sangat mungkin untuk dikembangkan karena memiliki potensi keberhasilan yang besar.
Optimistis ini m,uncul karena kondisi tanah Gorontalo cocok ditanami pohon kapas yang merupakan tanaman semak atau perdu. Jika pun tanaman iuni berhasil tumbuh dan berproduksi, namun hasilnya tidak mampu bersaing dengan kamoditas serupa dari daerah lain.
Menurut pendapat para ahli kapas Gorontalo berserat pendek dan dari segi nilai dan harga sangat mirip dengan kapas dari pulau Bali. Kapas mentah diperdagangkan di kalangan penduduk asli dengan harga ƒ 0,065 hingga ƒ 0,075 katti, namun, sebagaimana disebutkan di atas, jarang atau tidak pernah tersedia dalam jumlah yang besar. Sayangnya para pedagang arab dan cina tidak tertarik dengan komoditas ini.
Tembakau banyak dibicarakan orang dalam dunia perdagangan, sebagian orang membayangkan sebagai gunung emas. Tembakau ini adalah tembakau Gorontalo yang berbeeda vaietas dengan tembakau yang ditanam di kelokan daratan teluk Tomini misalnya tembakau Tinombo. Faktanya tidak ada perkebunan tembakau yang dikelola secara baik dalam jumlah yang besar. Produksinya selalu berada jauh di bawah kebutuhan, sementara pasokan dari luar daerah berupa tembakau siap pakai, yang berasal dari Tinombo.
Di wilayah Kwandang yang menjadi bagian dari wilayah kerajan Atinggola, ribuan tanaman tembakau dibudidayakan setiap tahunnya. Sebagian tanaman diolah secara tradisional, sebagian dijadikan komoditas di daerah pesisir di pantai utara. Sayangnya penanaman dan perdagangan tersebut terlalu kecil dan tidak teratur untuk dijadikan dasar penghitungan.
Percobaan penanaman komoditas ini sempat dilakukan satu kali di Gorontalo untuk pasar Eropa, namun hasil yang diperoleh pada saat itu tampaknya tidak mendorong pengulangan kualitas tembakau yang diperoleh pada saat itu,  ditanam dan diolah di bawah pengawasan seorang ahli dari Eropa pada lahan hutan yang baru dibuka, cukup baik, produk yang diperoleh tidak berhasil.
Varietas tyembakau juga didatangkan dari daerah lain di Hindia Belanda. Sejumlah kecil cerutu dibuat dari tembakau Gorontalo, dibuat dari beberapa daun tanaman pilihan, ditanam atas desakan para pejabat Eropa dan pribumi di tempat-tempat kecil yang subur.
Asisten Residen membuat regulasi penanaman tembakau yang belum banyak diketahui oleh penduduk Gorontalo. Warga dipaksa meninggalkan tanaman yan biasa mereka budidayakan dan beralih ke tembakau,  regulasi ini berhasil memaksa sepertiga penduduk untuk menanam tembakau. Paksaan ini diprediksi mampu menghasilkan 6600 pikol tembakau.
Perhitungan pemerintah menyatakan 3.300 dari 10.000 keluarga masing-masing menanam 3000 tanaman tembakau sesuai standar eropa. Program ini  dibebankan kepada raja dan penyelenggara peemrintahan di bawahnya. Pememrintah Hindia Belanda hanya bertugas melakukan pengawasan umum atas jalannya program ini sebagaimana telah diatur dalam berbagai kontrak lama.
Ia menilai orang Gorontalo lebih berbakat sebagai pedagang adri pada sebagai petani. Namun jika sebagai pedagang mereka kekuranagn modal, namun juga tidak cocok sebagai petani karena mereka tidak terbiasa dengan pekerjaan tetap. Tubuh petani umumnya yang lemah, kualitas makanan tidak memadai membuatnya tidak mampu melakukan aktivitas yang signifikan.
Praktik di bidang pertanian dilakukan dengan cara yang paling primitif, karena semua peralatan pertanian yang penting masih kurang dan dtidakntahu harus bagaiamana, sebagai akibat dari cara hidup nomaden yang dianut selama ini. (R., 20 Juli 1871)

Sumber Tijdschrift voor nederlandsch indië van D W.R. Baron van Hoevell, voortgezet door eene vereeniging van staatslieden en geletterden.
Derde Serie.
5de jaargang
tweede deel
Te Zalt-bommel, bij Joh. Noman en Zoon, 1871.

Friday, October 18, 2024

Catatan Singkat Batudaa tempo dulu

Menurut cerita dari masyarakat setempat. Kata Batudaa atau Botudaa berasal dari kata " Botu" dan " Daa" artinya batu besar, ada yang mengaitkan batu besar dengan keberadaan seorang Aulia bernama Tane Mela yang berada di desa Payunga.

Batudaa masuk dalam wilayah Kerajaan Limboto, bahkan pernah menjadi lokasi ibukota kerajaan, diantaranya di bubohu. Catatan sejarah bahwa sekitar tahun 1871-1873 pernah terjadi perang yang dikenal Perang Panipi, dipimpin oleh Pangeran Bobihu melawan pemerintah Hindia Belanda. Panipi adalah kerajaan kecil yang masuk wilayah Distrik Batudaa.

Saat wilayah Gorontalo tidak ada lagi sistim kerajaan dan digantikan pemerintahan
 langsung oleh Kolonial Belanda maka pada tahun 1889 Distrik Batudaa dibawah Afdeeling Gorontalo. Kemudian tahun 1925 Wilayah Administrasi Batudaa berubah menjadi Onder Distrik Batudaa berada dibawah Distrik Limboto. Dalam perkembangan selanjutnya Batudaa termasuk salah satu kecamatan saat terbentuknya Kabupaten Gorontalo tahun 1960. Sekarang Kecamatan Batudaa telah dimekarkan menjadi Kecamatan Batudaa, Bongomeme,Batudaa Pantai, Biluhu, Tabongo dan Dungaliyo

Nama Marsaoleh Batudaa jaman Hindia Belanda
Molangga Kaluku 1870
Mahamud (Mahmud Assegaf) 1885
Achmadi Adam 1889
Uno Van Gobel 1898
Hipi 1907
Mahmud Hipi 1940

Saturday, January 20, 2024

Kisah Mopangga, Ta To Amarale

Dahulu kala di Gorontalo, ada seorang bangsawan yang diangkat menjadi patih/jegugu bernama Mopangga. Lantas hingga saat ini turun temurunnya sdh menggunakan namanya itu sebagai nama marga. Lanjut kisah ini, ada pula salah seorang saudaranya dinobatkan menjadi Sultan atau raja yang memimpin di kesultanan Limboto. Kini nama bawaan lahir sang sultan pun sudah digunakan menjadi nama belakang atau disebut sebagai nama marga.
Setelah menjabat sebagi jegugu, Mopangga banyak menghabiskan masa-masa kehidupannya di dalam sebuah pemerintahan untuk membangun Paguato dan sekitarnya (Termasuk Tilamuta skrg). Semasa pemerintahannya yang notabene masih dlm kategori zaman kekunoan, Jegugu Mopangga sempat memperoleh gelar dari pengurus besar kaula adat dan juga pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu. Hal itu dianugerahkan kepadanya oleh karena beliau dianggap pemimpin yang sukses di dalam karir politiknya. Yaitu turut mendampingi Sultan Limboto bernama Naki untuk mengantarkan Tilamuta menjadi pusat pemerintahan baru, sekaligus melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah kesultanan Limboto. Sebelum mangkat, beliau memperoleh sebuah cinci berwarna hijau sebagai tanda jasa. Oleh sebab itu pada saat pesta penganugerahan gelar adat (Pulanga) pada dirinya, Mopangga diberi gelar "Tato Amarale". Arti kiasannya ialah, Pemimpin yang diberi tanda berpermata Emeral, atas jasa jasanya ketika berkuasa ia mampu membawa rakyatnya selalu hidup dalam kedamaian.


Sumber ceritera:
1. Disertasi Prof. DR, Samin Radjik Nur, SH.
2. Manuskrip keturunan keluarga kerajaan Bulango.
3.Postingan Maman Ntoma