ERFSLAVEN, WABAH DAN GORONTALO
Kata ini sungguh menyakitkan. Kata dalam bahasa Belanda ini cukup mencengangkan. Erfslaven jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah budak turun temurun.
Pada 1820, jumlah budak di Gorontalo berkisar 15 % dari total populasi. Hingga tahun 1860, jumlah budak sekitar 16 %. Diantara tahun itu, tahun 1858 adalah tahun terbanyak jumlah budak di Gorontalo ; 33 % dari total populasi. Diantara para budak itu, ada yang masuk kategori erfslaven.
Dalam rentang tahun 1820 - 1860, beberapa kali terjadi epidemi yang bergantian, dan yang paling banyak menjadi korban wabah adalah dari kalangan ini. Ribuan orang tewas di Gorontalo pada masa wabah melanda.
Sunday, April 12, 2020
Tuesday, February 25, 2020
Perbudakan di Gorontalo pada masa Kolonial
Kepemilikan budak merupakan aset
ekonomi dan simbol status bagi penguasa. Dalam lingkungan kerajaan Limo Lo Pohalaa,
umumnya budak diperoleh saat penaklukan suatu daerah. Kebanyakan
budak-budak tersebut ditempatkan di area istana kerajaan dan dimanfaatkkan
dalam pekerjaan rutinitas. Masalah kepemilikan budak bisa menimbulkan sengketa dengan
karajaan lain. Sekitar akhir tahun 1670-an Kerajaan Limboto memiliki budak sebanyak 600 orang melarikan diri ke suatu kampung di
Kerajaan Buwol, pihak Limboto menginginkan budaknya dikembalikan tetapi pihak
penguasa Buol menolak. Sepertinya Kerajaan Kaidipang juga punyak hak untuk
memperoleh para budak tersebut. Tahun 1683 pihak kolonial VOC Belanda bisa menyelesaikan sengketa tersebut.
Transaksi bisnis perbudakan seringkali terjadi antara penguasa di Gorontalo
dengan pedagang gelap pelaut asal bugis dan mandar. Penawaran harga budak jauh
lebih tinggi dibandingkan di jual ke pihak VOC, sebaliknya pihak penguasa bisa
mendapatkan komoditi bahan pokok dari para pelaut itu dengan harga murah, seperti beras dan garam.
Aturan VOC melarang penduduk membuat
garam dan untuk memperoleh garam harus dibeli ke pihak VOC. Pihak VOC umumnya
mengeksport perdagangan budak ke Ternate
dan Ambon, untuk perdagangan gelap biasanya para budak dikirim ke Kerajaan
Buton untuk diperdagangkan ke orang asing. Runtuhnya VOC diakhir tahun 1799 dan kemudian diambil alih
oleh Pemerintah Hindia Belanda tidak menyurut perdagangan budak di Gorontalo.
Awal tahun 1800-an justru perdagangan budak melonjak tinggi.
Penyebab tingginya perbudakan di Gorontalo akibat dibuatnya kontrak perjanjian tanggal 9 Januari 1828 antara Raja Muhammad
Iskandar Pui Monoarfa dengan Pemerintah Hindia Belanda , adanya pasal tentang
kewajiban membayar pajak berupa emas yang ditarik melalui setiap penduduk yang
mengakibatkan mereka banyak yang tidak mampu membayar pajak. Sehingga mereka
dijual sebagai budak, agar hasil penjualannya dapat memenuhi pembayaran
pajaknya.
Gambar ilustrasi abad -19
Laporan dari
tulisan J.F Riedel menyebut pada abad
ke-18 penguasa lokal di wilayah Teluk Tomini melakukan perampokan dan penjarahan terhadap ribuan anak-anak dan
wanitanya untuk dijadikan budak dan dibawah ke Gorontalo selanjutnya dipasarkan
ke Ternate. Laporan Van Baak sebagai
pejabat Asisten Residen Gorontalo tahun 1856 menyebutkan jumlah penduduk di
Gorontalo mencapai jumlah 40.000 jiwa dimana sepertiga dari jumlah penduduknya
berada dalam “perbudakan”. Karena
tingginya praktek perbudakan di Gorontalo, Van Baak bersama pembesar kerajaan
di Limo Lo Pohalaa mengabil inisiatif untuk menghapuskan perbudakan di seluruh wilayah
keasistenan Rasiden Gorontalo
Saturday, February 8, 2020
Catatan sejarah Paguat
Saat Raja
Wolango berkuasa di Kerajaan Gorontalo (1450-1480) berhasil menguasai wilayah
Teluk Tomini yang meliputi Paguyaman,
Paguat, Muotong sampai Sausu. Seiring
waktu berjalan, di era kekuasaan Raja Gorontalo Amayi (1523-1550), di wilayah Teluk Tomini ada gerakan menetang Kerajaan Gorontalo. Maka berlayarlah Amayi menuju
Teluk Tomini untuk melihat situasi sebenarnya. Dalam perjalanan pelayarannya,
Amayi menyinggahi Negeri Palasa menemui pemimpinnya. Singkat cerita, Amayi mengawini Putri Outango anak dari Raja Palasa, dengan suatu persyaratan Amayi
harus masuk Islam dan rakyat kerajaan Gorontalo harus menganut agama Islam. Usai pernikahan, Amayi kembali ke Gorontalo bersama istrinya
Putri Outango yang dikawal 8 perangkat
Raja-Raja dari Siendeng, Tamalate, Lemboo, Hilingato, Siduan, Sipayo, Soginti
dan Bunuyo. Dikemudian hari negeri Siduan, Sipayo, Soginti dan Bunuyo masuk dalam
wilayah Paguat.
Peta kawasan Teluk Tomini tahun 1885
Dalam
tulisan BJ Haga (1920) mencatat daerah Paguat merupakan pemasok sagu untuk
kebutuhan makanan pokok orang Gorontalo sebagai pengganti jagung (milu), perlu diketahui
bahwa masyarkat Gorontalo saat itu bahan makan pokoknya adalah jagung , sagu dan beras. Daerah Paguat juga memiliki tambang
emas yang dikelola masyarakat. Laporan penguasa VOC tahun 1776 menyebutkan
daerah Paguat sering ada kegiatan tambang emas illegal dan usaha penyelundupan
emas ke luar Gorontalo sehingga Residen Manado mengirim petugasnya untuk
mengawasi perairan pantai Paguat. Pada tahun 1831 Pemerintah Hindia Belanda
membuat kontrak perjanjian dengan Raja Gorontalo Lihawa Monoarfa diantaranya
pasal yang menyangkut pajak tambang emas
yang harus disetor ke Pemerintah Hindia Belanda sebesar 700 ons pertahun, untuk
pertambangan yang berada di Bumbulan, Paguat dan Molosipat. Potensi tambang
emas yang besar di Distrik Paguat
mengundang beberapa perusahaan tambang untuk menanamkan investasinya,
sebut saja diantaranya perusahaan swasta “Exploratie Syndicaat Paguat” mendapat
izin dari pemerintah Hindia Belanda tahun 1897.
Ketika Van Baak
menjadi Asisten Residen ditahun 1856, Afdeeling Gorontalo dibagi menjadi 5
swapraja yaitu, Gorontalo, Limboto, Bone, Boalemo dan Atinggola. Distrik Paguat
masuk dalam Swapraja Gorontalo. Tercatat Lebi Dunggio menjabat sebagai Marsaoleh
(Kepala Distrik) pertama Distrik
Paguat periode 1858-1864. Sampai tahun
1908 Marsaoleh Paguat berturut-turut
dijabat oleh Lebi Dunggio, Jahja Bumulo, Aneto Uno, Biyabo Van Gobel,
Junus Biya, Hoemoe Datau, Boebihu Olii, Haidar.P Olii, Potihedu Monoarfa
(1903-1908). Kemudian tahun 1908 Pemerintah Hindia Belanda melakukan
reorganisasi pemerintahan dengan membentuk 4 oderafdeeling yaitu, Gorontalo,
Boalemo, Kwandang, Buol. Distrik Paguat masuk dalam Onderafdeeling Bolemo, dan perubahan onderafdeeling tahun 1925 tidak mengubah distrik Paguat masuk Onderaffdeling Boalemo. Setelah kemerdekaan, Paguat sebagai salah satu kecamatan berada di bawah pemerintahan Kabupaten Gorontalo.
Jabatan Marsaoleh (Kepala Distrik) Paguat : periode 1908-1950
Kamsia Uno (1908-1913)
Rais Monoarfa (1913-1915)
Pano Lamato (1915-1917)
Hamzah Olii (1917-1920)
Bakari Datau (1920-1922)
Bumulo Olii (1922-1924)
Bumu Biya (1924-1927)
Biduri P Haju (1927-1929)
Ahmad Abay (1929-1930)
Karim Datau (1930-1932)
Abadi Ilahude (1932-1934)
A.R. Nento (1934-1936)
Abdul Kadir Habibie ( 1936)
Syamsu Biya (1936-1942)
Yunus Olii (1942-1944)
Risad Datau (1944-1946)
Simon Monoarfa (1946-1948)
Zainudin Wartabone (1948-1950)
Saturday, February 1, 2020
Catatan Raja Boalemo Paloa
Raja Paloa adalah penguasa pertama di Kerajaan Bolalemo.
Sepanjang kekuasaannya, Raja Paloa
berjuang melepaskan pengaruh dan dominasi dari Kerajaan Limboto. Catatan mengenai
Raja Paloa yaitu memimpin rakyatnya
yang menetap di Limboto untuk pindah ke
Bua (Panipi) . Selanjutnya berimigrasi
ke wilayah Marisa dan akhirnya pindah dan menetap di Tilamuta. Pada tahun 1822
Residen Manado Pietermant mewakili
Pemerintah Hindia Belanda , menetapkan status Boalemo sebagai kerajaan yang
berdiri sendiri.
Peta Gorontalo tahun 1897
Pada
tahun 1845 Raja Paloa berangkat ke
Ternate untuk bertemu dengan Sultan Mohammad Nuruddin . Tujuan Raja Paloa ke
Ternate untuk menerima sebuah tongkat yang dinamai “Batang Raja”, sebagai tanda
legitimasi seorang raja berkuasa atas Kerajaan Boalemo. Kepulangan Raja Paloa ke
AYUHULALO disambut rakyat Boalemo dengan adat istiadat dan kehormatan yang luar
biasa. Dan sejak saat itu Kerajaan Boalemo keluar dari pengaruh kekuasaan Kerajaan Limboto.
Friday, January 17, 2020
Suku Bolango bagian 2 “MENCARI TANAH BARU”
Kekuasaan
Pemerintah Hindia Belanda pada abad-19 makin menguat di wilayah Persekutuan
Kerajaan Limo Lo Pohalaa diantaranya membuat aturan sistim pajak , kebijakan Tanam Paksa (cultuurstesel)
dan pengaturan urusan birokrasi Kerajaan. Secara politis kebijakan dibuat oleh
Kompeni Belanda menimbulkan ketidakpuasan dan kebencian dikalangan Raja dan
pembesar bangsawan. Kerajaan Bolango ikut merasakan kebijakan tersebut. Dalam struktur hierarki Kerajaan
Bolango terdapat olongia (Raja) yang mengurus kepentingan pribumi. Raja dibantu
oleh jogugu atau mangkubumi yang bertugas membantu dan membawahi langsung
pemerintah kerajaan. Jogugu dibantu oleh kadli dalam urusan pengadilan
agama dan hakim yang berurusan dengan pengadilan umum. Urusan
keamanan dipimpin oleh Kapitan Laut dan
dibantu oleh para Mayulu (Mayor).
Sebagai ekses
dari kebijakan Kompeni Belanda terhadap urusan kerajaan, Raja Bolango dan para pembesar kerajaan menolak kebijakan tersebut dan memutuskan berimigrasi ke daerah Bangka
(Lombagin) di wilayah Bolaang Mongondow.
Dalam perjalanan pengembaraan menuju Bangka , mereka menyinggahi cukup lama di kampung Imana yang
masuk wilayah kerajaan Atinggola. Di tahun tahun berikutnya beberapa kelompok kecil orang Bolango di Tapa ikut
berimigrasi, menyebabkan jumlah
penduduknya semakin menyusut. Pada tahun 1856 secara resmi Kerajaan Bolango keluar dari Persekutuan Limo Lo Pohalaa dan
kedudukan Kerajaan Bolango digantikan oleh Kerajaan Boalemo. Status eks
kerajaan Bolango berubah menjadi DISTRIK TAPA, yang masuk ke Onderafdeling
Gorontalo
Peta menujukan pemukiman suku Bolango (lingkar putih)
Pemerintahan Kerajaan
Bolango di Bangka (Bolaang Bangka) tidak berlangsung lama, disebabkan Kompeni Belanda
memberlakukan pajak 50 sen per kepala
keluarga setiap tahun. Raja Bolango menolak aturan tersebut dan memutuskan
berimigrasi ke wilayah lain. Demikian pula Orang Bolango yang telah lama
menetap di wilayah Lombagin-Bolaang Bangka, beberapa kelompok kecil berimigrasi menuju ke kotamobagu, Pusian,
Doloduo dan Molibagu. Dalam catatan
sejarahnya, Kerajaan Bolango beberapa kali mengalami perpindahan dan perubahan
nama Kerajaan, bermula di Lombagin masih memakai nama Bolango, kemudian pindah
ke Bolaang Uki, selanjutnya ke Walugo. Nama kerajaan berubah jadi Kerajaan
Bolaang Uki ketika Said Ali Akbar dikukuhkan oleh Residen Manado menjadi raja
pada tanggal 30 April 1886, nama resmi Said Ali Akbar dalam pengukuhannya
adalah Muhammad Aliyudin Iskandar Ali Van Gobel.
Peta tahun 1898 Bolaang Bangka (lingkar merah)
Saat Raja Hasan
Van Gobel berkuasa , pada tahun 1903 bersama dengan Raja Bolaang Mongondow Datu
Cornelis Manoppo menyepakati pertukaran wilayah. Dalam kesepakatan itu
diputuskan bahwa wilayah Bolaang Uki bagian pesisir utara menjadi milik
Kerajaan Bolaang Mongondow, untuk wilayah Kerajaan Bolaang Uki meliputi daerah
bagian barat antara sungai Taludaa, dan bagian timur batas sampai di Tanjung
Pinolosian. Molibagu adalah pusat pemerintahan Kerajaan dengan memiliki 12
kampung. Butuh tiga tahun lamanya Raja Hasan Van Gobel untuk mengajak orang
bolango yang terpencar di wilayah Bolaang Mongondow untuk mengungsi dan tinggal di daerah baru
Kerajaan Bolaang Uki. Menengok sejenak sejarah
pengembaraan Suku Bolango, apa yang
diikrarkan oleh Putri Daopeyago 500 tahun lalu, akhirnya menjadi kenyataan .
Molibagu yang saat itu disebut “buta dillata” atau “buta dirlata” akhirnya
menjadi tanah air bagi Suku Bolango .
Peta 1913. Kerajaan Bolaang Uki dengan ibukota Molibagu
Pasca
Kemerdekaan Indonesia, tahun 1950 Kerajaan Bolaang Uki berakhir dan digabungkan
dengan Kabupaten Bolaang Mongondow. Raja
Muda Arie Bansye Hasan Van Gobel adalah penguasa Bolaang Uki terakhir,
memerintah antara 1941-1950.
Raja Bolaang Uki Hassan Van Gobel
Iskandar Gobel 1837-1867
Said Ali Akbar Van Gobel 1867-1874
Willem Abadi Van Gobel 1874-1901
Hasan Van Gobel 1901- 1927
Eduard Van Gobel 1927-1941
Ari Bansye Hasan Van Gobel 1941-1950
Subscribe to:
Posts (Atom)




