Saturday, August 14, 2021

Prasasti di Desa Labanu

Prasasti ini merupakan monumen bahu membahunya Jogugu Kota Gorontalo, Jogugu Suwawa dan Jogugu Limboto serta Marsoleh-Marsoleh bersama rakyat membuat jalan tembus sampai ke wilayah Kwandang,

Dalam kisah membuat jalan ini dikenang sebagai Huyula Hulondhalo dimana antar penguasa dengan penguasa, antar rakyat dengan rakyat, antar penguasa dengan rakyat bergotong royong. Pembangunan perintisan jalan Isimu-kwandang diresmikan tahun 1926

Nama nama yang ada di prasasti yaitu:

1. Rais Monoarfa Jogugu Gorontalo 

2. Haidar Pomuayadu Olii, Jogugu Limboto

3. Zakaria Wartabone, Jogugu Bone-Suwawa 

 

Dan para Marsaoleh:

1. Ibrahim van Gobel

2. Machmud Hippy 

3. Jusuf H.P Olii

4. K Datau

5. Ayuba Wartabone

6. Nuwa Ali

7. Bumulo Olii


Catatan:

Ada nama Haji Arsyad Rahmola sebagai Khadi Limboto yang turut terlibat dalam pelaksanaan perintisan jalan akses ke Kwandang, mengatur jadwal tenaga kerja dan berkoordinasi dengan Jogugu Haidar P Olii. Kebetulan keduanya masih saudara sepupu.

Sunday, July 11, 2021

Sultan Amayi

Islam masuk di Gorontalo atas nama cinta, itu terjadi ketika Raja Amay (raja Gorontalo) 1460-1535 meminang seorang putri bernama Boki Owutango Anak Raja Palasa. Raja Amay, adalah seorang pemimpin muda dan masih lajang berparas tampan pada masa itu pada tahun 1495.

Sebelum memeluk agama Islam, ia dan pengikutnya saat itu menganut agama Alifuru.

Sementara Putri Boki Owutango adalah seorang putri bangsawan, berparas amat cantik dan masih remaja, berkharisma agung, berbudi halus dan luhur, tersohor dan menjadi legenda di seantaro Sulawesi, Ternate, hingga Sulu sebagai putri agung yang memiliki ghirah Islam yang besar dan pemahaman yang luas dalam ilmu-ilmu Islam.


Ketika Raja Amai ingin meminang Putri Boki Owutango, sang putri yang berasal dari kerajaan Islam Gomonjolo - Mautong di Sulawesi Tengah inipun mengajukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh Raja Amay. Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh sang Raja yaitu :

Pertama, Raja Amai dan rakyat Gorontalo harus diislamkan ,

Kedua, adat kebiasaan dalam masyarakat Gorontalo harus bersumber dari Alquran.

Alhasil Kedua syarat itu diterima oleh Raja Amai.

Di sinilah awal Islam menjadi kepercayaan penduduk Gorontalo.

Sebelum menikahi sang putri Boki Owutango, Raja Amai mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amai dengan terang-terangan mengumumkan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah. Pada pesta tersebut Raja Amai meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat. Saat pendeklarasian sumpah tersebut, adalah hari terakhir rakyat Gorontalo memakan babi.

Usai proses sumpah adat, Raja Amai kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Ia sendiri kemudian mengganti gelarnya dengan gelar raja Islam, yaitu Sultan.

Prinsip hidup baru ini, mudah diterima oleh masyarakat Gorontalo saat itu, yang tidak tersentuh oleh Hindu-Buddha. Masyarakat merasakan tidak ada pertentangan antara adat dan Islam, namun justru memperkuat dan membimbing pelaksanaannya.

Masjid Sultan Amayi

Pada tahun 1550, sepeninggalan Sultan Amai, jabatan kerajaan digantikan oleh putera mahkotanya, Matolodula Kiki. Sultan kedua kesultanan Gorontalo ini menyempurnakan konsep kerajaan Islam yang dirintis oleh ayahnya. Beliau pun melahirkan rumusan adati hula-hula'a to sara'a dan sara'a hula-hula'a to adati, yang artinya adat bersendi syarak, syarak bersendi adat. Islam dan adat, saling melengkapi.


Islam resmi menjadi agama kerajaan ketika kesultanan Gorontalo ada di bawah pemerintahan Sultan Eyato. Konsepnya pun berubah, mirip dengan prinsip masyarakat Minangkabau, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Di bawah kepempinannya, Kesultanan Gorontalo mencapai puncak kejayaan.

Bagi masyarakat Uduluwo limo lo Pohalaqa Gorontalo (serikat kerajaan di bawah dua kerajaan Gorontalo dan Limboto), syarak kitabullah dipahami bahwa hukum dan aturan-aturan yang berlaku bersumber dari kitab suci Alquran dan hadis Rasulullah SAW.

Pada masa itu, beberapa perubahan dilakukan, menjadi lebih Islami. Sistem pemerintahannya kini didasarkan pada ilmu akidah atau pokok-pokok keyakinan dalam ajaran Islam.

Sumpah-sumpah dan adat istiadat yang dipakai, bersumber pada Islam.

Penerapan sistem budaya Islam pada sikap dan perilaku pejabat kerajaan telah mengawali pemantapan karakteristik budaya Islam dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.

Sultan Eyato sendiri awalnya memang seorang ahli agama dan cendekiawan. "Sebelum menjadi raja, Eyato merupakan seorang hatibida'a yang tergolong ulama pada masa itu.

Provinsi Gorontalo merupakan daerah yang memiliki kebudayaan yang beraneka ragam serta suku yang majemuk. Sehingga agama yang berkembang di Provinsi ini menjadi beragam pula, diantaranya Islam, Protestan, Katholik, Hindu dan Budha. Tapi yang banyak di anut penduduk gorontalo adalah agama Islam.

Orang Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam (96.36 %) yang sesuai falsafah daerah ini: “Adati hula to syaraa; syaraa hulahula to Qurani” atau “Adat bersendikan sara’, sara’ bersendikan kitabullah”. 

Gorontalo pun di kenal dengan sebutan “Kota Serambi Madinah” dengan infrastruktur serta bentuk-bentuk bangunannya yang bernuansa islami.

Sebelum kedatangan agama Islam, penduduk Gorontalo memeluk agama Alifuru, semacam kepercayaan animisme dan dinamisme. Serta mempunyai tiga bahasa daerah, yaitu Bahasa Gorontalo, Suwawa, dan Atinggola. Saat ini, bahasa yang lebih banyak dipakai sehari-hari adalah bahasa Indonesia dialek Manado, logat Gorontalo. 

Terkait tentang animisme dan dinamisme dalam kepercayaan lama masyarakat Gorontolo, pendapat tersebut tidak disepakati oleh Wantogia, yang menurutnya sejak semula orang Gorontalo percaya pada Tuhan yang maha Esa. Ungkapan dalam bahasa Suwawa-Gorontalo “Taquwata to mita niya Eya tuwawu loqu tuwawu liyo” (Tuhan yang maha Esa dan ke-maha-esa-an Tuhan, Tuhan Tunggal sebenar-benarnya tunggal). [Lihat Olha S. Niode: 2014 dalam S.Kau: 2015: 13].

Menurut Kau dan Suleman, sebutan Tuhan dalam bahasa Gorontalo disebut “Eya”. Kata “Eya” berdekatan dengan kata Esa dalam bahasa Indonesia (yang sebelumnya berasal dari bahasa Sansekerta). Menurut mereka, boleh jadi juga kata “Eya” berasal dari kata Arab “iyyahu” (hanya kepada-Nya).

Lebih lanjut dalam konteks ini Wantogia menegaskan bahwa orang Gorontalo lama tidak pernah menyembah batu, gunung, pohon, air, dan sebagainya. Mereka hanya percaya pada roh-roh halus yang bersemayam dalam benda-benda itu. 

Prinsip-prinsip kepercayaan lama yang tidak jauh dari prinsip aqidah Islam itulah sesungguhnya yang menyebabkan masyarakat Gorontalo begitu mudahnya menerima Islam tanpa proses yang berbelit-belit.

Islam memang tidak disebarkan dengan pedang.

Terkhusus Gorontalo, CINTA yang tulus di hati seorang Raja dan sang putri bangsawan muslim soleh yang dicintainya adalah pemegang peran utama hingga menjadikan Islam telah menjadi agama mayoritas masyarakat asli Gorontalo.

Islam adalah simbol cinta sejati, jantung dan hati seluruh masyarakat pribumi asli Gorontalo. Sebagaimana permintaan sang putri Boki Owutango,

"Wahai Raja Gorontalo, nikahilah dan cintailah daku karena Allah."

(Dikutip dari berbagai sumber)

Thursday, July 1, 2021

Peperangan Raja Gorontalo

Kerajaan Gorontalo, pemerintahan Dwi-tunggal dipegang oleh Amai sebagai Olongia to Tilayo dan Tuliyabu sebagai Olongia to Huliyalio. Pada salah satu perang penyerbuan ke Teluk Tomini, Amai mengawini seorang anak perempuan raja Kumojolo bernama Owutango, yang dari pihak ibunya adalah keturunan raja-raja Palasa dari Siendeng yang pula bertalian darah erat sekali dengan raja-raja Ternate. Anak laki-laki yang lahir dari perkawinan mereka bernama Matolodula. Matolodula inilah yang selanjutnya menggantikan ayahnya Amai sebagai raja Udik (Olongia to Tilayo). Di bawah pemerintahannya terjadi pengislaman Gorontalo yang juga turut dibantu oleh anggota keluargannya yang berasal dari Ternate.


Dari keterangan di atas tampaklah bahwa kedua kerajaan ternyata sudah memelihara beberapa hubungan dengan Ternate. Diceritakan selanjutnya bahwa rupanya permintaan bantuan Tilahungan, buat sementara waktu belum membawa hasil. Meskipun ternyata diketahui bahwa bantuan itu akhirnya terwujud setelah Tilahunga menggantikan kedudukan ayahnya, Dulapo. Di Gorontalo  Matolodupun sudah digantikan oleh anaknya. Pongokiwu sebagai Olongia to Tilayo, sedangkan isteri Matolodula bernama Wulatileni menggantikannya menjadi ratu di kerajaan to Huliyalio lo Hulantalo. Sementara itu untuk kedua kalinnya Limboto berusaha mendapatkan bantuan dari Ternate dalam rangka memerangi kerajaan Gorontalo. Usaha ini berhasil dilakukan melalui Detubiya, anak raja Humonggilo dan Ju’mu’min putri Ternate. Gorontalo akhirnya dapat dikalahkan dan anak perempuan Matolodula dengan Wulatileni bernama Poheleo atau Mboheleo dibawa ke Ternate sebagai tawanan. Putri ini pun akhirnya kawin dengan raja Ju Mangopa dan karna ia mempunyai nama Ternate yaitu Ju Balu. Ketika ibunya Wulatileni mangkat ia pun diizinkan kembali ke Gorontalo menggantikan ibunya sebagai Ratu Hilir (Olongia to Huliyalio). Ketika itu pun ia ditinggal mati suaminya Ju Mangopa.


Sekembalinya ke Gorontalo, Poheleo yang masih sakit hati akibat kekalahan perang melawan Limboto berminat untuk membalas dendam. Ia tidak menghiraukan meskipun merasa mempunyai pertalian darah dengan Ternate. Saat itu ia memutuskan untuk mengirim Hohuhunya (Patih atau Perdana mentri) bernama Bumulo tidak begitu menyukai tugas ini, mengingat ia sudah membuat rencana dengan Khatibida’a (Penghulu Utama) bernama Eyato untuk mengusahakan perdamaian dengan Limboto. Akan tetapi karna Poheleo mengancamnya untuk tidak memberikan persetujuannya mengawini Duhula, cucu Motadula, maka dengan rasa engan dipenuhinya juga perintah tersebut.


Dengan bantuan Gowa, negeri Limboto dikalahkan. Dua anak permpuan dan seorang anak laki-laki dari Limboto, Momiya yang pada waktu itu telah menggantikan ayahnya Tilahunga, ditawan. Kedua anak perempuan itu masing-masing bernama Ntobango dan Tili’aya dibawa ke Gowa dengan dikawal oleh tiga orang Baate, bernama Mopato Langolo, Mopato Hulita, Mopato Taniyo. Sedang laki-lakinya bernama Pomontolo dibawa ke Manguju (Mandar). Mula-mula kedua orang putri Limboto itu menerima perlakuan yang buruk sekali di Gowa. Konon kabarnya akibat perlakuan tersebut negeri Gowa mengalami musim kemarau yang hebat sekali, semua sumur mengalami kekeringan air. Hanya dengan susah payah, dengan menggunakan tali sepanjang seratus depa orang baru dapat menimba air dan hanya mampu mengisi satu ruas bambu penuh, itu pun hanya bisa diperoleh dari sumur didekat raja.


Suatu hari kedua orang putri itu meminta izin untuk mandi di sumur dekat rumah raja itu, sewaktu akan mandi tiba-tiba air sumur naik hingga melimpah-limpah melalui pinggir sumur. Dengan serta merta mereka menyiram air kepada ke badannya dengan sebuah keranjang, dikarenakan orang tidak memberikan merka timba. Ternyata mereka mandi seolah-olah dengan menggunakan timba, air tidak keluar dari keranjang itu. Keajaiban tersebut membuat raja Gowa kagum, kemudian meminta mereka menurunkan hujan, dan betullan ternyata hujan pun turun setelah mereka memohon sambil mengadahkan tangan ke langit. Setelah kejadian itu putri-putri itu selanjutnya diperlakukan dengan hormat. Meskipun demikian setelah lepas dari musibah satu musibah lain pun datang, wabah-wabah lain masih tetap saja menimpa negeri itu. Akhirnya sang raja memutuskan memulangkan saja putri-putri itu ke Limboto. Maka berangkatlah mereka dengan satu kekuatan angkatan laut yang besar dengan tujuan merampas kembali semua barang-barang dan anak buah yang ditawan oleh orang-orang Gorontalo, dan kemudian bermaksud menaklukan Gorontalo dibawah kekuasaan Limboto. Ketika angkatan laut itu sampai di Tolinggula bertemulah mereka dengan utusan-utusan penjemput dari Limboto yang telah memperoleh berita gembira tentang kembalinya Ntobango dari Tili’aya. Di antara para penjemput itu terdapat Hohuhu Popa dan Wulea lo Lipu Pomalo. Disebuah pulau kecil bernama Lihutokalo depan Bolontiyo berhentilah mereka. Disini Popa dan Pomalo berusaha menjalankan misinya, membujuk para pemimpin Gowa tidak bersedia karena merasa belum melaksanakan tugas yang di perintahkan raja mereka.


Sementara itu desas-desus mengenai kedatangan angkatan laut Gowa yang yang besar sudah terdengar di Gorontalo. Hohuhu Bumolu, setelah mendengar desas-desus tersebut menyuruh untuk mengumpulkan dua gantang emas mengirim Khatiibida’a Eyato membawa emas itu mempunyai menemui angkatan laut Gowa dan menbujuk mereka supaya jangan melakukan penyerbuan terhadap kerajaan Gorontalo. Eyato benar-benar berhasi menemui Wulea lo Lipu Pomalo dan Hohuhu Popa, selanjutnya dulohupa pun dilakukan. Dengan tindakan yang bijaksana diperolehlah jaminan dan kesepakatan akan bantuan mereka untuk menciptakan perdamaian di dua negeri yang bersengketa. Mereka menemukan kata sepakat sesudah pemimpin Gorontalo atas jaminan Eyato berjanji akan mengembalikan semua harta rampasan kekerajaan Limboto. Kemudian mereka menjalankan strategi untuk menghalau pasukan angkatan laut Gowa ke Gorontalo. Sambil membagi-bagikan emas kepada karaeng-karaeng Gowa tersebut, Eyato Dengan disaksikan oleh pembesar Limboto menerangkan bahwa Gorontalo akan menaklukan diri pada Limboto. Setelah memperoleh penjelasan tersebut maka akhirnya pasukan angkatan laut Gowa tersebut setuju untuk kembali ke Gowa. Sememtara itu kedua orang puteri Limboto dengan selamat akhirnya kembali ke Limboto didampingi oleh para baate masing-masing. Demikian pula Pomontolo, saudara lelaki mereka berhasil di bebaskan oleh baate Mopatu Taniyo.


Usaha mendamaikan kedua negeri yang bertikai mengalami kemajuan. Hal ini berkat peranan dan strategi yang dijalankan oleh pembesar kedua negeri terutama oleh Khatibida’a Eyato dan Hohuhu Bumulo dari pihak Gorontalo, dan Hohuhu Popa dan Wulea lo Lipu Pomato dari pihak Limboto. Konon perdamaian itu telah jauh-jauh hari sebelumnya mereka rencanakan. Diceritakan suatu ketika Hohuhu Popa dan Wulea lo Lipu Polamalo diperintahkan oleh ratu mereka mencari bala bantuan kerajaan Gowa. Akan tetapi dalam perjalanan dicegat oleh Khatibida’a Eyato. Eyato meminta kepada para pembesar Limboto itu untuk tidak tergesa-gesa dan sedapat mungkin memperlambat perjalanan, rupanya dengan maksud mengusahakan perdamaian antara Gorontalo dan Limboto sebelum angkatan laut tiba.akhirnya mereka mencapai kesepakatan-kesepakatan. Ketika kembali ke Gorontalo dengan maksud akan menjalankan rencannya membujuk ratu kerajaan tersebut, kehadirannya di tempat itu ditolak. Sebagai Khatibida’a dia tidak berhak berbicara dalam siding pembesar Negara. Akan tetapi dengan kelihainannya akhirnya Eyato berhasil menarik perhatian bahkan meyakinkan kedua pimpinan Gorontalo, Sehingga diizinkan masuk ke Bantayo (ruang sidang)untuk memberikan penjelasan Bumulo, anak dari Hohuhu Hungilo (Buyobudu) saat itu bertindak sebagai perantara. Eyato memeparkan rencananya dalam sidang itu yang pada dasarnya ingin mendamaikan kedua kerajaan Gorontalo dan Limboto. Rencana ini akhirnya mendapatkan persetujuan kedua ratu Gorontalo, Moliye dan Poheleo. Diputusakan juga pada saat itu bahwa Boyubodu demi mendukung kepentingan Bomulo, sekaligus menyerahkan jabatan kepada anaknya itu sebagai Hohuhu Hungilo. Sementara itu Eyato juga menggantikan pamannya Patilama sebagai


Hohuhu Lupoyo, dengan tujuan kedua orang tua muda itu bisa bekerja sama untuk dan atas nama kerajaan Gorontalo melaksanakan rencana mereka. Eyato berlayar menyusul Hohuhu Popa dan akhirnya mencapai kata sepakat.


Untuk mewujudkan perdamaian sebagai mana yang telah disepakati atas maka para pembesar Limboto dengan di antar oleh Eyato selanjutnya selanjutnya secara bersama-sama mengdakan perjalanan ke Gorontalo. Pusat kerajaan Gorontalo ketika itu terletak Lupoyo seorang diantara orang Limboto Palingga sambil berdiri diatas perahunya berseru sambil mengumandangkan tuja’I sebagai berikut :


Tomupa loli Dotula                 Orang turun dari perahu disungai (Lupoyo)


Mai mohibintua                       Datang bertanya-tanya


Malongongolipua                    Sudah bersama-sama satu negeri


Ode hinteyalihua                    Menuju saudara seibu

Tuesday, June 1, 2021

Tumbilotohe tempo dulu

Sebelum ada bahan bakar minyak untuk lampu penerangan, masyarakat Gorontalo dimasa lampau menggunakan bahan bakar dari getah damar. Orang menyebutnya Tohetutu. Sekitar tahun 70an Tohetutu untuk Tumbilotohe masih digunakan oleh masyarakat Gorontalo terutama yang tinggal di pelosok desa.

Bahan dasar untuk membuat tohetutu adalah getah dari pohon damar dan daun Woka muda yang sudah kering. Seperti melinting tembakau , getah damar dimasukan pada gulungan daun Woka. Kemudian daunnya diikat agar gulungannya tetap rapat dan getahnya tidak mudah keluar.



Saat dinyalakan Tohetutu ini memiliki aroma yang harum. Sekarang ini penggunaan Tohetutu untuk Tumbilotohe sudah sangat jarang dipakai, oleh karena mendapatkan getah damar harus mencarinya di hutan.

Karena getah damar mulai sulit didapatkan, masyarakat Gorontalo saat pelaksanaa Tumbilotohe mulai menggunakan lampu "Padamala" dengan bahan dasarnya minyak kelapa dan sumbu kapas, wadahnya cangkang kerang kadang juga dipakai buah pepaya atau kelapa yang dibagi dua. Sekitar era tahun 1980an mulai menggunakan " Tohe Butulu" (lampu botol) bahan bakarnya minyak tanah




Saturday, May 29, 2021

Tradisi Tumbilotohe

Konon, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad XV. Pada masa itu lampu penerangan masih terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. 

Alat penerangan ini di sebut wango – wango. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala.Seiring dengan perkembangan zaman, maka bahan lampu buat penerangan di ganti minyak tanah hingga sekarang ini. Bahkan untuk lebih menyemarakkan tradisi ini sering ditambahkan dengan ribuan lampu listrik.Tumbilotohe, pateya tohe… ta mohile jakati bubohe lo popatii….. Kalimat pantun ini sering lantunkan oleh anak – anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai. 

Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat. Malam tumbilotohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di gorontalo. 

Apalagi kalo diselenggarakan lomba antar kampung atau kecamatan, Kalau ada foto udara, Anda dapat menyaksikan wilayah gorontalo terang bercahaya.Saat tradisi tumbilotohe di gelar, wilayah gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap. Gemerlap lentera tradisi tumbilo tohe yang digantung pada kerangka – kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota gorontalo. 

Di atas kerangka di gantung sejumlah pisang sebagai lambing kesejahteraan dan tebu sebagai lambing keramahan dan kemuliaan hati menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama. Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah sendiri tanpa subsidi dari pemerintah. 

Tanah lapang yang luas dan daerah persawahan di buat berbagai formasi dari lentera membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. 

Tradisi tumbilitohe juga menarik ketika warga gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bunggo dan festival bedug (sumber:wikipedia)



Thursday, May 27, 2021

Alikusu (Arkus)

Dalam bahasa Gorontalo Alikusu artinya " Pintu Gerbang". Adanya Alikusu sebagai tanda akan berlangsungnya suatu upacara adat.

berbagai jenis Alikusu diantaranya :

Alikusu Tonuwa : Alikusu untuk penyambutan tamu atau pejabat penting.

Alikusu Lo Tohe : Alikusu yang dibuat untuk malam TUMBILOTOHE.

Alikusu Pobiya : Alikusu untuk acara pernikahan atau sunatan/pembeatan.

Alikusu Lo Lipu : Alikusu yang dibuat untuk kepentingan menyambut hari hari besar Islam.

Alikusu Lo Huwa : Alikusu yang dibuat pada suasana duka dengan pemakaman secara adat.

Alikusu Du'a : Alikusu yang khusus ditempatkan di depan Rumah Dinas kepala daerah, Camat dan kepala desa.



Wednesday, May 5, 2021

Catatan Sejarah Bolaang Uki

 Sejarah Bolaang Uki yang di catat oleh Wilken dan Swarzh 1867 

Negeri Oeki. 

Teluk Oeki atau Labuhan Uki memiliki dataran Rendah berawa berakhir ditempat ini negeri Oeki dibangun. Di pantai kami disambut oleh kepala suku negri, selanjutnya diantar ke rumah Raja, dimana Djogoegoe menunggu kami bersama para pangeran dan kepala lainnya.  

Saat kedatangan kami negeri ini dilanda wabah penyakit sehingga Raja meminta kami mengatakan melalui Djogugu bahwa kami memiliki kebebasan untuk mengatur tempat tinggal, kami memilih tinggal di rumah Jogugu,rumah ini juga merupakan milik rumah kerajaan, Rumah ini didekorasi secara lengkap dengan berbagai jenis kain. Rumah kayu bertangga. 

Di rumah ini ada Seorang kakek kepala pelaut sutra abad ketujuh belas yang yang sudah tua mengenakan "helm tembaga belang-belang tua dan tombak berkarat di tangan. Dengan dandanan seperti ini, pria itu mirip seperti tentara Voc yang pemberani Jan Company. 

Kami Berjalan mengelilingi rumah rumah warga , yang terdiri dari jalan kecil yang dilapisi dengan rumput sebagian tempat tinggal ada yang belum teratur namun pada umumnya sudah baik. 

Populasi kekaisaran ini sekarang 250 hingga 300 jiwa memiliki sekitar 50 hingga 60 rumah tangga, beberapa di antaranya menetap di Molibagu, kota pesisir yang terletak di antara Gorontalo dan Kottabunan. Seluruh penduduk telah lama memeluk Islam, Kekristenan tetap asing bagi penduduk, Penduduk membayar setiap tahun kepada Pemerintah sebagai hasil ƒ 250 gulden yang mana Rajah dan para menterinya menerima sepersepuluh dari jumlah yg dibayarkan. 

Masih banyak penduduk yang miskin di antara populasi ini, industri atau perdagangan hampir tidak ada. Pabrik tenun menurun karena kain linen murah yang didatangkan dari Eropa. Seperti di Bolaang juga ada pertanian sawah kecil yang dibudidayakan. Pembuatan garam hanya untuk konsumsi rumah tangga.budidaya tanaman Kakao sudah dilakukan di masa Amarhum Residen Jansen namun kakao terhambat oleh penyakit buah busuk.Sagu adalah makanan sehari-hari penduduk.


SEJARAH LELUHUR BOLANGO

Leluhur nenek moyang Bolango sebelumnya tinggal selama beberapa abad di kaki gunung Klabat, di dekat sungai kecil yang mengalir dari timur ke utara gunung itu disebut Aer-Bolango. Dari sungai di kaki gunung Klabat kemudian berpindah ke pulau lembeh selama beberapa tahun di pulau lembeh kemudian harus pindah lagi karena di sebabkan bencana yang mengerikan,Bencana ini terjadi akibat Suatu peristiwa ketika Dua anak Raja, saudara laki-laki dan perempuan yang telah terpisah lama namun bertemu kembali saling jatuh cinta mereka terjebak dalam pergaulan terlarang, harusnya secara adat mereka berdua harus di hukum berat,tetapi karena mereka bagian dari keluarga penguasa sehingga di anggap lolos dari aturan adat ini.namun sebagian besar warga takut membiarkan pelanggaran adat ini.Akibat pelanggaran adat ini turunlah Bala dan bencana. 

Bala yang mengerikan turun ketika semua hewan dan serangga memberontak Udang dalam jumlah sangat banyaknya baik di lautan mapun di sungai naik ke daratan, menghancurkan semua tanaman dan pepohonan, menyerang ternak dan manusia, dan merusak udara dengan bau busuk.menyebabkan kelaparan dan wabah pwnyakit, penduduk terpaksa meninggalkan pulau itu. Beberapa dari mereka pergi untuk menetap di pulau Siauw, sebagian lagi di Kema, yang lain menyusuri pantai timur menuju Belang, sebagian yang lain melewati Kottabunan menuju Totokia tanah yang berada di antara Gorontalo dan Molibagu.

Dari tempat inilah setelah bertahun tahun tinggal terjadi pernikahan antara Pangeran Limbotto dengan putri Totokia,Leluhur Bolango kemudian pindah ke Gorontalo, di mana mereka mendirikan sebuah negri, yang disebut Bolango, di sekitar Limbotto, dan hidup di bawah pemerintahan Raja mereka sendiri. 

Namun akibat Ketidaksepakatan dan konflik yang terus terjadi dengan Raja Limbotto karena kepemilikan tanah membuat mereka memutuskan, dengan persetujuan pemerintah Belanda, untuk pindah ke Bangka di bawah pimpinan Raja Matokka mereka menuju sebuah wilayah daratan di pantai barat disekitar muara sungai Lombagin (Saat ini di sekitar Pabrik PT Conch ), di daerah Raja Bolaang-Mongondou yang kemudian terjadi Hubungan yang sangat baik dengan Suku Bolaang Mongondo.Perpindahan ini terjadi sekitar tahun 1802 atau 1803. 

Namun lokasi ini tidak strategis oleh pengaruh gangguan Angin Selatan di Bangka, dan banyaknya binatang buaya di sungai Lombagin yang sering menyerang penduduk, Bolango kemudian pindah lagi pada tahun 1849 atau 1850 ke teluk Oeki (saat ini sekitar Labuhan Uki Lolak), yang juga terletak di daerah Bolaang Mongondou. Bolango yang Sebelumnya tinggal di Bolaang Bangka karena berpindah di sekitar teluk uki maka kini mereka disebut Bolango Oeki/Bolaang Uki. 

Raja Bolaang Oeki saat ini adalah, ALIJOE-DINI-ISKANDER-GOEBAL-BADIAMAN, telah memerintah sejak 1837. Saat kami temui Raja telah berumur sekitar 60 tahunBaru pada usia enam puluh tahun,Sesaat sebelum keberangkatan kami, Raja mendatangi kami di beranda depan untuk meminta agar memberikan surat pemberitahuan Kepada Residen,atas pengunduran dirinya menjadi Raja. 

Bolango-Oeki juga membuat kesepakatan dan Kontrak dengan Hindia Belanda,Bentuk pemerintahannya adalah sistem monarki. Kepala pemerintahan adalah Raja, yang dibantu oleh Dewan dan mentri menterinya,tanpa hasil keputusan para mantri dan dewan kerajaan Raja tidak dapat memutuskan hal hal yang menjadi kepentingan Raja. 


Struktur pemerintahan :

RAJA

JOGUGU

KAPITEN-LAUT

MARSAOLI

WALAPOELOE

HOEKOEM

KIMALAHA

MAJOR 


Mereka sebagian adalah kaum bangsawan, Kepala kepala desa dan kepala agama di pilih oleh warga dan diangkat oleh Raja,Pemilihan Raja tidak selalu diturunkan dari ayah ke anak tetapi juga di pilih dari saudara Raja laki laki yang di sepakati oleh Dewan kerajaan. Raja Bolaang uki juga melakukan kontrak san perjanjian dengan Hindia Belanda. 

Pemukiman di Molibagu berada di bawah kendali seorang Panggulu dan beberapa kepala bawahan. Semua kepala suku ini menerima hasil dan mengumpulkan hasil pajak kebun,dan pajak rumah. 

Konflik Pulau Tiga 

Bolaang Oeki memperoleh reputasi pelanggaran ketika pada tahun 1864,sebuah kapal Jepang yang berlabuh di pulau Tiga berpindah ke Labuhan Uki untuk berlindung akibat Badai,di serang dan di jarah oleh beberapa orang yang di pimpin Pangeran Gorontalo,Penyerangan itu di lakukan di malam hari,Kapal di bakar dan barang jarahan di angkut ke Teluk Uki seluruh awak Kapal Tewas. 

Residen Manado melakukan penyelidikan atas kejadian ini, pemeriksaan atas Jogugu Bolang Uki menyampaikan tidak tahu menahu,namun pangeran yang memimpin berhasil di tangkap di Van Bool (Bolangitang) kemudian di hukum dan di penjarakan di residen manado. 

Dalam penyidikan di laporkan bahwa kelompok ini curiga dengan kapal yang berbendera aneh dan berbicara tidak seperti Company (VOc),Arab atau Cina.sehingga mereka menganggapnya sebagai orang asing dan musuh. 

Sumber : Tijdschrift voor zendingswetenschap, mededeelingen hal. 32-39 



Dari Data inilah Publik Bolaang Mongondow Raya dapat mengidentifikasi kembali sejarah Bolango salah satunya adalah perubahan Peta Wilayah Bolaang Uki yang sebelumnya masih memanjang dari Molibagu ke Labuhan uki dengan nama Bolaang Bangka di abad ke 19 kemudian terjadi lagi pengaturan tata kelola wilayah para Raja Raja Bolaang Mongondo Raya di mana wilayah Bolaang Uki kemudian berubah semuanya di sisi selatan memanjang dari molibagu ke Gorontalo berbatasan di Posigadan.Hubungan Leluhur Bolango dan Mongondo ada pada pernikahan Golonggom - Bolaango atau disingkat Gobal.