Saturday, December 5, 2020

Sengketa Kepemilikan Budak antara Buol dan Limboto

       Sekitar tahun 1670-an sebanyak 160 orang budak dari Kerajaan Limboto melarikan diri ke wilayah kerajaan Buol, kemudian utusan kerajaan Limboto yang diwakili oleh Kapitan Laut Walangadi pergi ke Buol menemui Raja Buol untuk membicarakan masalah Budak asal Limboto. Pembicaraan masalah Budak ini dihadiri pula utusan dari Kerajaan Kaidipan.

      Raja Buol menolak menyerahkan budak tersebut, sehingga peperangan tak bisa dihindari. Pada Desember 1683 Kerajaan Limboto bersekutu dengan Kerajaan Kaidipang  menyerang kerajaan Buol, yang akhirnya Buol mengalami kekalahan. Namun para budak yang disengketakan melarikan diri ke wilayah hutan di Toli-Toli. Kerajaan Limboto kembali merundingkan soal pengembalian budak, tetapi pihak Buol  tetap pada keputusan sebelumnya. Kerajaan Limboto menyerang kembali kerajaan Buol, untuk kedua kalinya pihak kerajaan Buol mengalami kekalahan perang. Kerajaan Limboto menawan dua orang pengeran Buol dan membawanya ke Karajaan Limboto. Selama dalam tawanan  Pangeran Puni dan Balamogilalu diperlakukan secara istimewa. Nantinya mereka yang ditawan ini akan menjadi perantara oleh Kerajaan Limboto  dalam merundingkan pengembalian Budak asal Limboto.  Cara yang dilakukan oleh Kerajaan Limboto berhasil membujuk  Raja Buol untuk mengembalikan Budak asal Limboto. Kedua kerajaan yang bersengketa ini akhirnya mengakiri permusuhan dan menjalin perdamaian.

Gambar lukisan perbudakan abad 17


Sumber:

Buku Sejarah Kerajaan Gorontalo

Oleh Harto Juwono

Saturday, November 21, 2020

Pejuang asal Gorontalo (2)

 Aloei saboe

Lahir di Gorontalo 11 November 1911 adalah seorang dokter, akademisi dan tokoh pejuang kemerdekaan. Aloei Saboe menyelesaikan pendidikan dokternya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) yang kini berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Setelah lulus dari pendidikan dokternya, ia ditempatkan di semarang hingga akhirnya di Gorontalo pada tahun 1942.

Aloei Saboe telah berkontribusi selama lebih dari 30 tahun dalam pemberantasan penyakit kusta dan ikut serta menyiapkan RS di desa Toto di Kabila, Gorontalo. Jabatan terakhir Aloei Saboe adalah menjadi wakil Kepala pengawas dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat.

dr. Aloei Saboe (x), foto tahun 1955
     

Dalam organiasasi ia pernah aktif sebagai anggota Jong islamieten bond pada tahun 1926, ikut serta dalam PNI pada tahun 1935. Pernah terpilih sebagai ketua umum PNI cabang Gorontalo pada kongres yang pertama. Ikut bersama Nani Wartabone pada peristiwa 23 Januari 1942 dan saat terjadi perang revolusi Kemerdekaan RI tahun 1946-1947, Aloei Saboe ikut serta dalam mengirimkan pasokan obat obatan dan alat kesehatan kepada para pejuang kemerdekaan di Banyuwangi, Jawa Timur. Atas jasa perjuangannya Pemerintah RI memberikan tanda jasa berupa Bintang Gerilya dan satyalencana peristiwa Aksi Militer I dan II. Wafat pada tangga 31 agustus 1987 dan dimakamkan di taman makam pahlawan Jakarta.


Monday, November 9, 2020

Pejuang asal Gorontalo

Mayor Abdullah Idrus alias Dullah

Lahir di Gorontalo, pernah menjadi pelaut dan saat Jepang menduduki Indonesia Dullah bekerja sebagai penarik becak di Surabaya. November 1945 bergabung di Tentara Laut Republik Indonesia, karena kecakapannya dalam berperang diberi pangkat Kapten walaupun beliau buta huruf.

Pada tahun 1947, Dullah kawin dengan Wims Umampan yang berprofesi sebagai guru. Istrinya mengajari Dullah hingga bisa membaca dan menulis, teman sejawat Dullah yaitu Kapten F.J Tumbelaka turut membantunya mengajari baca tulis dan bisa memahami bahasa Belanda dan Inggris secara pasif. Kapten F.J Tumbelaka dikemudian hari menjadi Gubernur Sulutteng tahun 1962-1964.

Tahun 1948 Dullah diberi kepercayaan sebagai komandan pasukan Batalyon, ikut penumpasan Peristiwa Madiun dan berjuang saat Agresi Belanda II. Pangkatnya dinaikan menjadi Mayor. Saat berada di Ambon tahun 1950 membasmi pemberontakan RMS, mayor Dulllah gugur bersama Letko Slamet Riyadi. 

Mayor Dullah dimakamkan di pulau Geser, Kepulauan Seram, Maluku. Atas jasa perjuangannya, Mayor Dullah dinaikan pangkatnya menjadi Letkol Anumerta.

Saturday, November 7, 2020

Pelaut Bugis dan VOC di Teluk Tomini

       Penangkapan dan Pengasingan Raja Bia Ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan bukan berarti Kerajaan di Gorontalo sepenuhnya bisa dikendalikan oleh VOC. Pejabat Bangsawan di Kerajaan Gorontalo dan Limboto tidak kooperatif dengan VOC dalam hal kegiatan perdagangan karena tidak menguntungkan secara Ekonomi. Pejabat bangsawan lebih suka bertransaksi dalam perdagangan dengan pelaut Bugis dan Mandar. Bagi pihak VOC Belanda, sebutan pelaut Bugis dan Mandar sebagai “Perampok dan Bajak laut “, akibat aktifitas orang Bugis dan Mandar di perairan Teluk Tomini pihak VOC merasa dirugikan. Tahun 1702 utusan VOC menghadap Raja Gorontalo Walangadi membicarakan keberadaan pelaut bugis dan mandar yang diketahui telah memiliki sarang pertahanan di wilayah pantai Teluk Tomini. Raja Gorontalo tidak bisa mengatasi keberadaan pelaut bugis ini. Utusan VOC kembali ke Ternate dan menghadap Gubernur Maluku, dari hasil laporan utusan VOC itu pihak VOC memutuskan segera menggempur sarang pertahanan “Perompak Bugis dan Mandar”. Sekitar Januari 1703 pasukan armada laut VOC dibantu warga Tambokan menggempur sarang-sarang pertahanan pelaut bugis dan mandar. Tambokan merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate yang terikat dengan perjanjian dengan VOC. Gempuran VOC ini berhasil mengusir mereka dari perairan Gorontalo. 

          Peta tahun 1700 Indonesia Timur


       Para bangsawan Gorontalo dan Limboto yang antipati pada VOC yang mana daerah mereka mengalami kerusakan atas penyerangan VOC, segera melampiaskan kepada orang orang Tambokan. Mereka menangkapi 16 orang Tambokan dan dijadikan budak. Raja Gorontalo dan Raja Limboto pada tanggal 30 November 1705 membuat pernyataan bersama; “mengancam akan membunuh siapapun yang tidak bayar upeti”. Gubernur Maluku menggangap ini sebagai masalah serius ,Sultan Ternate diajak oleh VOC untuk mengatasi situasi politik di Gorontalo. Namun usaha ini sia sia, dan salah satu cara untuk mengatasi hal ini VOC memutuskan memulangkan kembali bekas Raja Gorontalo Bia dari pengasingannya dari Afrika Selatan pada tahun 1706. Dengan harapan bahwa kepulangan eks Raja Gorontalo mampu meredam perlawanan elit bansawan terhadap VOC. Dan cara yang dipakai VOC ini berhasil, untuk sementara waktu situasi di perairan Teluk Tomini aman dan terkendali.


Catatan*

Sepanjang abad 17-19 pihak kompeni Belanda masih saja berusan dengan masalah keamanan di perairan Teluk Tomini. Pejabat bangsawan di Gorontalo tetap berhubungan dagang secara illegal dengan pelaut bugis, terutama ditemukannya emas di wilayah Gorontalo. Akibatnya pemasukan pajak untuk Pemerintah Kolonial Belanda tidak maksimal.


Sumber:

Buku Limo Lo Pahalaa, Sejarah Kerajaan Gorontalo

Friday, October 9, 2020

Istilah Hulontalo dan Goenong Tello


Suku Suwawa biasa datang ke pantai Gorontalo untuk berdagang. Di sini mereka menunggu barang barang yang mereka butuhkan untuk dibeli, lalu di awa pulang ke daerah mereka. Oleh sebab itu, mereka nai tempat itu pogulatalo yang berarti " tempat menunggu". Kemudian kata pogulatalo (gulatalo) berubah menjadi Hulontalo


Orang orang Bugis, yang mula mula datang ke Gorontalo memasuki teluk akan melihat tiga buah puncak gunung, lalu menamai negeri ini Gunung Tellu (goenong Tello) yang artinya "tiga buah gunung". Dalam bahasa Gorontalo hu'idu tihengo artinya gunung tungku, karena ketiga buah gunung itu letaknya berdekat-dekatan seperti tiga buah tungku. Gunung Tellu dalam ucapan orang Gorontalo menjadi Hulontalo

Foto pintu masuk teluk Gorontalo (1930)

Beberapa petunjuk dan nama untuk wilayah Gorontalo sekitar awal tahun 1800an memakai nama Gunung Tellu seperti nama sungai Bone sebelumnya bernama sungai Gunung Tello. Peta tahun 1842 nama teluk Tomini masih memakai nama Goenong Tello.



Dinasti Wartabone di masa lampau

Raja Wartabone alias La Bunue pernah berkuasa di Kerajaan Konfederasi Suwawa-Bone- Bintauna memerintah tahun 1830-1849.

La Iboerahima Wartabone alias Talibu atau Teibu adalah anak tertua dari Raja Wartabone. Pertengahan  tahun 1800-an La Iboerahima merantau ke pulau Una-Una. Di pulau tersebut adalah awal La Iboerahima menjadi seorang penyebar agama islam. Beliau kemudian pindah tempat di wilayah daerah  palu  melanjutkan dakwahnya. Wafat pada tahun 1897 di desa Potoya Kabupaten Sigi, SULTENG.

Selain itu ada putra dari Raja Wartabone yang pernah menjabat Walaapulu yaitu Nuku Wartabone. Nuku Wartabone memiliki anak bernama Zakaria Wartabone, pernah menjabat Walaapulu Tapa. Kemudian diangkat menjadi Marsaoleh Bone-Suwawa, terakhir menjabat sebagai Jogugu Suwawa.

Jogugu Zakaria Wartabone


Ayuba Wartabone dan Nani Wartabone anak dari Jogugu Zakaria Wartabone yang pernah menduduki jabatan di pemerintahan.

Ayuba Wartabone pada era pemerintahan Hindia Belanda pernah menjadi Marsaoleh dan Jogugu Limboto. Awal Kemerdekaan Indonesia, Ayuba Wartabone menduduki jabatan Kepala Daerah Sulawesi Utara tahun 1950an. Salah satu anak dari Ayuba Wartabone yaitu Suus Wartabone kawin dengan Boe Taki Niode yang nantinya menjadi walikota Gorontalo.

Nani Wartabone tokoh 23 Januari 1942. Tahun 1957 Beliau membentuk "Pasukan Rimba" melawan  pemberontakan PERMESTA. Nani Wartabone pernah menjabat Residen Koordinator Sulawesi Utara.

Monday, September 14, 2020

Catatan Sejarah Raja Wolango, Putri Moliye dan Raja Polamolo


Raja Gorontalo Wolango adalah anak dari Raja Uloli, berkuasa tahun 1450-1481. Wolango memiliki Istri bernama Moliye, seorang penguasa Kerajaan Limboto. Moliye  menggantikan ibunya, Ratu Mitu.

Dalam catatan sejarah, Wolango dan Moliye melakukan ekspansi memperluas kekuasaan di Teluk Tomini dan anak mereka bernama Polomalo diserahkan tugas sementara untuk mengurusi kedua kerajaan, Gorontalo dan Limboto.

Raja Wolango bersama prajurit kerajaan memulai perjalanannya dari Teluk Gorontalo menyusuri pantai Barat. Sedangkan Ratu Moliye bersama pasukannya memulai perjalanan dari Muara Sungai Paguyaman menuju Kepulauan Togian. Keduanya berhasil menaklukan wilayah yang berada di Teluk Tomini dan bertemu di Sausu. Selanjutnya Wolango dan Moliye membuat kesepakatan perjanjian yang dikenal dengan perjanjian "Sausu Masabuku" , Kerajaan Gorontalo mendapatkan wilayah Sausu sampai Paguyaman dan Kerajaan Gorontalo mendapatkan wilayah dari perbatasan Sausu sampai pulau Togean



Tahun 1481 Polamolo dinobatkan menjadi Raja   Gorontalo sekaligus Raja Limboto. Akhir dari kekuasaannya adalah peristiwa pembunuhan atas dirinya yang didalangi oleh pejabat kerajaan. Raja Polamolo digantikan oleh putri Ntihedu adik dari raja Wolango sebagai Ratu Gorontalo, sementara Kerajaan Limboto adalah  raja Pilohibuta. Mulai saat itu Kerajaan Gorontalo dan Limboto masing-masing memiliki rajanya.


Catatan

Raja Wolango kawin dengan Ratu Moliye dapat anak tunggal bernama Polamolo.

Raja Polamolo kawin lagi dengan putri Monggulilalo dapat anak:

1. Pangeran Lopuo

2. Raja Uloli II

3. Putri Mitu II